Pertemuan tiga (13/5/2015)

Pertemuan tiga (13/5/2015)

 

Kegiatan yang ketiga kali ini berbeda dengan sebelumnya, kami mengadakan pemutaran film di Ace House Collective. Dalam pemutaran film perdana ini, kami memilih memutarkan serial dokumenter yang dibuat oleh Jamie Oliver yang masih berhubungan dengan tema fast food. Serial dokumenter kali ini dipilih melalui rekomendasi yang diberikan oleh Gloria. Ditemani dengan nugget ayam dan roti goreng dengan gambar pizza, film pun mulai diputarkan.

Revolusi makanan

“Food Revolution” merupakan judul dari serial dokumenter yang diputar oleh Bakudapan kali ini dan juga merupakan gerakan yang sedang dipromosikan oleh seorang chef dari Inggris, Jamie Oliver. Serial dokumenter yang kami pilih merupakan season dua, yang menceritakan menu makan siang yang disajikan oleh sebuah sekolah di Huntington, Virginia Barat, Amerika Serikat. Di Indonesia, jarang sekali ditemukan sekolah yang menyediakan makan siang bagi murid-muridnya, namun tidak dengan Amerika. Jamie Oliver sendiri memulai gerakan revolusi makanan di sekolah-sekolah di Amerika sebab ia merasa makanan yang disajikan merupakan makanan cepat saji dan tidak bergizi.

Saat melihat salah satu adegan dalam film tersebut, anak-anak sangat menyukai makanan cepat saji seperti hamburger, pizza, nugget ayam, kentang goreng, dan ayam goreng tepung. Jarang sekali ditemukan sayuran dalam makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak di sekolah. Melihat ini, Jamie Oliver merasa harus merubah makanan yang disajikan di sekolah.

Cara-cara yang dilakukan oleh Jamie Oliver salah satunya adalah dengan menguji pengetahuan anak-anak mengenai sayuran. Cukup mengejutkan saat banyak anak yang tidak mengetahui nama-nama sayuran; mereka mengetahui kentang goreng tapi tidak paham bentuk kentang itu seperti apa atau mereka mengenal saus tomat tapi tidak tahu bentuk tomat. Cara lain yang dilakukannya adalah dengan memberikan demo bagaimana nugget ayam yang dibuat kepada anak-anak. Demo pembuatan nugget ayam ini dilakukan dengan menunjukan bahwa nugget ayam tidak terbuat dari dagingnya, tapi dari tulang ayam yang memiliki sisa-sisa daging yang menempel, kemudian dihancurkan dan ditambahkan kulit ayam. Jamie mengatakan bahwa ini telah berkali-kali diujikan ke anak-anak sebelumnya dan berhasil membuat anak-anak tidak ingin memakan nugget ayam kembali. Namun, lain cerita saat Jamie Oliver melakukannya kepada anak-anak di Amerika, pada awalnya mereka merasa jijik, tetapi tetap saja mereka mau memakan nugget ayam tersebut.

Kisah lain juga ditampilkan saat Jamie Oliver berusaha mengubah pola konsumsi dari sebuah keluarga, masih di kota Huntington. Permasalahan keluarga ini masih sama, yaitu konsumsi makanan cepat saji yang berlebih dan pola makan yang tidak seimbang, dan efek yang paling terlihat adalah anak laki-laki dari keluarga tersebut yang masih duduk di kelas enam sekolah dasar, mengalami obesitas, dan memiliki resiko penyakit jantung serta diabetes.

Kebetulan yang menguntungkan

Pada akhir pemutaran, beberapa peserta ingin melanjutkan untuk memutar lanjutan dari serial dokumenter ini. Namun, kebetulan dua orang penonton acara ini berasal dari Chicago, Amerika Serikat, Avery dan Claire, mengajukan pertanyaan yang akhirnya memancing diskusi lebih lanjut.

Awalnya Avery menanyakan apakah sekolah-sekolah di Indonesia menyediakan makan siang untuk para muridnya, yang dijawab tidak oleh kami, kecuali saat TK pada hari-hari tertentu. Sekolah di Indonesia tidak memilki kewajiban untuk menyajikan makan siang yang sebenarnya bisa membentuk pola makan anak sedari kecil. Walaupun pasokan makanan untuk sekolah-sekolah Amerika ternyata terbukti tidak lebih baik dan sehat, serta menyingkap beberapa perihal politik pangan di negara tersebut.

Menurut Avery apa yang ditampilkan oleh dokumenter tersebut memang benar adanya, ia sendiri mengalaminya saat berada di bangku sekolah. Makanan cepat saji memang menjadi pilihan yang mudah untuk disajikan, tetapi ia cukup beruntung karena setiap hari orang tuanya akan membawakan makanan ke sekolah sehingga ia tidak perlu makan di kafetaria. Avery memberikan sedikit gambaran bahwa makanan cepat saji memang sering dikonsumsi oleh mereka sebab harga yang memang sangat murah.

Mengkaitkannya dengan situasi disini, hal itu agak bertolak belakang. Bagaimana fast food dipandang oleh masyarakat Indonesia terutama awal kedatangannya di akhir 80-an, fast food lebih dikenang sebagai makanan yang cukup prestisius. Hahan, anggota Ace House juga menambahkan jika ayam atau daging yang disajikan dalam fast food merupakan bagian terbaik dari tubuh hewan ternak yang pastinya berharga lebih mahal. Ia merujuk pada kebiasaan orang Indonesia yang gemar makan jerohan karena sejak jaman kolonial, bagian hewan ternak terbaik hanya diberikan pada Belanda. Sedang orang pribumi mendapat sisa-sisanya untuk diolah menjadi menu-menu khas seperti soto atau sop. Pendapat ini muncul karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik industri fast food yang konon kabarnya merubah industri pangan dunia.

Saat menyinggung masalah kesehatan, Avery menyampaikan bahwa pengalamannya beberapa hari di Indonesia, ia menemukan banyak menu makanan dengan bahan sayur. Ia membandingkannya dengan yang terjadi di Amerika, dimana harga sayur sangat mahal, salah satu faktornya mungkin karena negara 4 musim. Terlebih dengan adanya label organik yang kini marak diseluruh dunia sebagai gerakan masif yang harus dilihat dan dikritisi lagi. Kami sangat setuju akan hal itu, karena kata “organik” yang hampir semena-mena dibubuhkan pada produk-produk sayuran, hampir tidak memiliki standar yang jelas, seolah-olah produsen hanya menjual rasa takut konsumen yang mengkosumsi sayuran tidak sehat, GMO, berpestisida, dsb. “Organik” telah menjadi merk dagang yang tidak memberi informasi jelas kepada konsumennya dan menjualnya dengan harga yang lebih mahal. Memang tidak semua merk organik dan aktivis pangan berbuat demikian namun, dengan maraknya fenomena organik (yang kemudian diunggah ke akun Instagram atau Path) sebaiknya diikuti dengan pemahaman dan informasi yang memadai.

Salah satu kesimpulan yang kami tarik sementara dan hubungannya dengan fast food adalah pergeseran nilai dari makanan fast food yang identik dengan junk food ini terjadi karena semakin banyak konsumen yang sadar akan isu kesehatan, yang juga diperkuat dengan fenomena mengkonsumsi organik yang menjadi gaya hidup baru.