Pertemuan lima (20/5/2015)

Pertemuan lima (20/5/2015)

 

Penulis: Gloria Mario

Pertemuan kelima di Bakudapan Rabu kemarin 20 Mei 2015 pukul 20.00 kami isi dengan mengadakan pemutaran film dokumenter berjudul Earthlings. Malam itu saya berkesempatan memilih film yang akan kami simak dan nikmati bersama. Sebagai pengantar, Earthlings adalah film dokumenter Amerika yang dirilis pada tahun 2005 akhir dengan durasi135 menit. Secara graris besar, film ini memaparkan isu lingkungan dengan eksploitasi alam yang telah dilakukan kita sebagai manusia. Adegan demi adegan dari film ini diambil menggunakan kamera tersembunyi, dan digabungkan juga dengan beberapa potongan adegan yang diperoleh dari dokumentasi aktivis PETA, ALF, dan beberapa lembaga aktivis lainnya. Alur cerita dalam film terbagi menjadi lima pembahasan yakni pet, food, clothes, entertainment, dan yang terakhir scientific research. Prolog Earthling memilih latar alam liar dengan menyuguhkan gambar berbagai spesies hewan, mungkin tujuannya adalah kembali mengingatkan kita bahwa alam semesta ini dihuni bukan hanya oleh manusia namun juga hewan dan tumbuhan, yang akhirnya semua tergabung dalam sebuah ekosistem besar. Kemudian setelah adanya perkembangan teknologi dan pertumbuhan penduduk, bumi kita mengalami perubahan.

Cerita film

Pada bagian pertama, pet atau hewan peliharaan di Amerika sudah lama menjadi bagian dari industry peternakan besar yang ternyata mengancam kesejahteraan hewan-hewan yang biasa dipelihara oleh manusia. Ancaman terhadap hewan-hewan seperti anjing dan kucing dapat dlihat dari ukuran kandang yang sempit, jaminan kebutuhan makan dan minum yang sangat dibatasi oleh industri, dan sisi paling kontroversial adalah kebijakan suntik mati yang dilakukan pada anjing atau kucing yang terkena virus, yang dianggap hewan dengan nilai jual rendah. Kemudian pada bahasan kedua, yakni Food, Shaun Monson si pembuat film banyak mengambil gambar di peternakan-peternakan besar dan di beberapa tempat pemotongan hewan. Di Amerika pembantaian hewan nampak tidak etis, dan tentu saja hal ini menjadi pertentangan di ruang publik. Selanjutnya, bahasan ketiga yakni clothes menceritakan tentang industri fashion Amerika yang mengeksploitasi binatang-binatang liar untuk diambil kulit dan bulunya untuk dijadikan jaket, dompet, tas, ban pinggang, atau assesoris. Kebanyakan dari konsumen penggemar kulit dan bulu satwa liar ini memang berasal dari kelompok social dengan kelas tertentu. Konsumsi barang-barang yang terbuat dari kulit atau bulu satwa langka semakin mendorong kita manusia untuk kemudian tersegmentasi demi kepentingan gaya hidup. Sementara itu, bahasan yang terakhir adalah soal scientific research, dimana ada begitu banyak hewan yang menjadi bahan penelitian namun malah menjadi korban. Terpapar dalam film ini disebutkan ada sekitar 10 miliar binatang yang telah menjadi korban percobaan penelitian.

Apa yang kita bicarakan?

Selanjutnya, karena fokus kami adalah berkomentar soal makanan, maka kami tidak mendiskusikan soal pet, clothes, entertainment, dan scientific research. Hal yang menarik bagi saya pribadi yang merekomendasikan Earthlings untuk ditonton bersama sebenarnya karena saya mempunyai rasa penasaran akan tanggapan penonton lain. Dua tahun lalu saya pernah menonton film ini, yang direkomendasikan oleh teman saya yang adalah seorang aktivis. Waktu itu saya menonton film ini sendiri dengan bekal intervensi dari teman saya, yang kemudian berujung pada keputusan saya untuk berhenti mengkonsumi daging ayam potong. Bagaimana saya bisa memutuskan untuk tidak makan daging ayam sebenarnya muncul ketika rasa ngilu melihat adegan “penyiksaan” yang dilakukan di peternakan ayam. Dimulai dari adegan pemotongan paruh ayam-ayam yang masih kecil menggunakan mesin yang sangat panas, penyuntikkan suplemen pada ayam agar bisa tumbuh lebih cepat dan besar, serta kandang yang sempit membuat saya menyalahkan diri saya sendiri sebagai orang yang hampir setiap hari mengkonsumsi daging ayam. Saya membayangkan betapa tidak bahagianya daging ayam yang ada di meja ketika hendak disantap, ketika saya kembali mengingat adegan demi adegan dari film Earthlings, terutama ketika ayam yang saya makan berasal dari restaurant fast food terkenal seperti KFC, Mc Donals, Wendys, dll. Sayangnya, aksi “anti-ayam” saya hanya berjalan selama enam bulan saja, saat itu saya tidak bisa menghindari ajakan dari teman-teman yang mengajak saya makan di restaurant fast food local usai rapat rutin KKN. Dalam diskusi malam itu saya ingin melihat tanggapan dari anggota Bakudapan yang lain, apakah mereka mengalami kegelisahan yang sama atau mungkin memberikan tanggapan lain.

Sebagian besar dari kami menyimpulkan bahwa film ini sangat persuasive dan terkesan menaruh semua kesalahan kepada manusia yang menciptakan industri-industri. Pola perlakuan industri memperlakukan ayam-ayam, sapi, kambing, babi, termasuk ikan-ikan dengan tidak etis sebenarnya mengejar satu tujuan yang sama, demi keuntungan bisnis yang harus terus meroket. Misalnya kita bisa melihat ukuran kandang ayam yang sempit dengan tujuan menghemat lahan dan biaya pembangunan, kemudian berakibat pada hewan-hewan yang cenderung menjadi kanibal namun sanggup diatasi dengan diciptakannya mesin pemotong paruh. Semua perlakuan ditujukan untuk tetap menjadi pemasok akan kebutuhan-kebutuhan pasar, termasuk kebutuhan dari perusahaan-perusahaan fast food. Dalam film ini manusia dikarakterkan sebagai tokoh super power melalui adegan-adegan pengurus ternak yang mengeksekusi hewan-hewan dengan ritual mereka yang nampak tidak etis. Lebih dari itu, kami juga melihat film ini sangat vocal dan justru memberikan ide baru untuk berhenti saja mengkonsumsi daging, atau dengan kata lain mengajak untuk beralih menjadi vegetarian, demi kehidupan yang lebih bersahaja. Selain itu ada pula yang meberikan tanggapan lain seperti di Indonesia kita mempunyai ritual yang dirasa lebih “manusiawi” saat melakukan penjagalan. Menurut kami, Indonesia cenderung lebih etis dalam menjagal hewan dikarenakan adanya aturan pelebelan “halal” pada daging yang akan dipasarkan. Film ini sama sekali tidak meninggalkan rasa enggan untuk kami dalam mengkonsumsi daging-dagingan. Dalam berbagai etnis misalnya daging selalu menjadi makanan yang paling bernilai, baik dala acara syukuran, ritual keagamaan, dan pernikahan.

Bagi kami orang Indonesia, mengkonsumsi daging bahkan merupakan sebuah kepuasan tersendiri. Terutama dengan masih banyaknya masyarakat yang hidup di bawah garis sejahtera tentu megkonsumsi daging masih menjadi harapan, daging menjadi tolak ukur kemakmuran seseorang. Kami di Indonesia dengan begitu banyak ritual adat yang menggunakan hwan juga makanan yang mengandung unsur hewan, sulut bagi kami untuk menjadi vegetarian. Saya pribadi kemudian disini mengambil kesimpulan lagi, yang berbeda dari simpulan saya dua tahun lalu. Hal yang perlu kita garis bawahi adalah kita harus mulai peduli darimana makanan di atas meja kita berasal. Karena bagi para ahli kesehatan maupun tukang masak sekalipun berpendapat bahwa bahan makanan yang baik harus berasal dari sumber yang baik, untuk selanjutnya diolah dengan baik. Ketika kita tahu makanan di piring kita terjamin berasal dari ayam-ayam yang hidup di kandang yang lebih luas, dengan makanan yang alami, juga termasuk disini sayuran-sayuran yang organik, barulah kita bisa berdeklarasi sejauh apa tingkat kelayakan makanan yang masuk dalam tubuh kita.