Moro-Morotai; Abjeksi akan Konflik dan Kontestasi Agama

Moro-Morotai; Abjeksi akan Konflik dan Kontestasi Agama

Gatari Surya Kusuma

Perjalanan ke Pulau Morotai adalah perjalanan paling jauh saya, dan rekan Bakudapan saya Monika, ke timur Indonesia. Kami berangkat dari Yogyakarta dengan waktu tempuh 7-10 jam, bergantung kepada maskapai penerbangannya. Secara geografis, Pulau Morotai merupakan pulau paling utara Indonesia yang berdekatan dengan Filipina. Dengan total wilayah seluas 1.800 kmserta area hutan yang masih mendominasi, Morotai merupakan kabupaten baru di Provinsi Maluku Utara.

Kami tinggal di Morotai selama 12 hari, dari tanggal 11 hingga 23 September 2019 di Desa Bido. Untuk sampai ke Desa Bido, kami membutuhkan waktu kurang lebih dua jam menggunakan mobil dari Pusat Kabupaten, Daruba. Di sana kami tinggal di rumah Simpul Papeda, sebuah LSM yang fokus pada pertanian dan perkebunan. Ketika kami sampai, rumah Simpul Papeda yang baru berdiri pada Februari 2019 masih dalam tahap pembangunan. Jadilah, kami tinggal di bangunan sementara yang cukup nyaman dengan dilindungi jala penghalang nyamuk. Percayalah, jala penghalang nyamuk itu penting; serangan nyamuk dan agas di Morotai bisa datang kapan saja, tanpa diundang. 

Teman pertama kami di Morotai adalah Erwin, co-founder Simpul Papeda. Erwin banyak membantu kami di perjalanan ini. Ia mengenalkan kami kepada beberapa warga lokal. Kami memulai perkenalan pada malam pertama sembari membagi oleh-oleh yang kami bawa dari Ternate dan Yogyakarta. Kami berkenalan agar tidak ada yang terkejut dengan kehadiran kami selama dua minggu. Setelah berkenalan, kami bertekad untuk mandiri. Kami harus bisa beraktivitas tanpa harus mengandalkan Erwin untuk mengantar sana-sini.

Agama dalam Konflik Kesultanan Ternate dan Portugis: Antara Identitas Kekuasaan dan Pembebasan Kaum Budak[1]

Ide untuk melakukan perjalanan penelitian ke Morotai berangkat dari kisah Mamitua Saber. Mamitua Saber adalah seorang pemimpin dari Suku Moro di Mindanao, Filipina. Melalui autobiografinya, ia banyak bercerita tentang permasalahan konflik identitas, politik, dan laku hidup keseharian di Mindanao, Filipina. Kami pun tertarik untuk menelisik keterhubungan antara Indonesia dan Mindanao melalui Pulau Morotai. Mindanao dan Pulau Morotai sama-sama dihuni oleh suku asli bernama Suku Moro. Mau tidak mau, terbersit kecurigaan bahwa terdapat keterhubungan rentetan sejarah di antara keduanya, yang membangun struktur sosial masyarakat hingga hari ini. Salah satu dari rentetan sejarah itu adalah peran agama yang berlaku dalam pembentukan struktur sosial masyarakat di Morotai.

Pada awalnya, Suku Moro atau Bangsa Moro di Morotai adalah pekerja bagi Kesultanan Ternate. Mereka dijadikan budak dengan beban kerja yang berlebih, dimana harus mensuplai bahan makanan mulai dari beras, sayuran hingga unggas kepada Ternate. Secara otomatis, mereka harus memeluk agama Islam yang sesuai dengan Kesultanan Ternate. Dibawah kekuasaan Sultan Baabullah, Kesultanan Ternate mangalami kejayaan pada tahun 1570-1583. Kala itu, mereka berhasil menguasai hampir keseluruhan Indonesia bagian Timur, termasuk Mindanao di selatan Filipina. Namun kejayaan tersebut mendapatkan intervensi dari kedatangan Portugis. Semula, Portugis datang untuk mencari rempah-rempah dengan semangat ekspansifnya menemukan dunia baru. Namun ketika mereka melihat bagaimana masyarakat dibawah kesultanan Ternate, mereka memilih untuk bertindak lebih. Portugis mulai melakukan pembaptisan kepada Suku Moro, yang mereka percayai sebagai upaya pembebasan dari perbudakan yang dilakukan Kesultanan Ternate. Peranan agama dalam pembentukan masyarakat dimulai pada titik ini. Ketika  Portugis berhasil mengambil kekuasaan dari Kesultanan Ternate melalui pembaptisan, Kesultanan Ternate memulai pembantaian kepada Suku Moro. Peristiwa tersebut  menunjukkan bagaimana agama bukan lagi tentang kepercayaan semata, melainkan juga politik identitas akan wujud kekuasaan. 

Kesultanan Ternate menggunakan agama untuk menguasai dan menjalankan kesultanannya melalui norma dan ajaran Islam. Ketika agama kristen datang, seluruh tatanan kerja dan norma yang ada di Kesultanan terancam berubah. Di sisi lain, Kedatangan agama Kristen melalui Portugis memang dipercayai sebagai suatu bentuk penyelamatan bagi Suku Moro melalui pembaptisan.

Pada akhirnya, Suku Moro tetap mengalami pembantaian. Pembantaian yang dialami Suku Moro adalah upaya dalam menghilangkan bukti kekalahan kesultanan Ternate, sekaligus cara untuk menciptakan narasi kesejarahan baru. Menurut hemat saya, pembantaian tersebut merupakan bentuk pelampiasan kemarahan atas kekalahan. Kontestasi agama yang terjadi kala itu merupakan kontestasi akan identitas kekuasaan. Toh, ketika Suku Moro berpindah agama, Kesultanan Ternate tidak akan melihat mereka sebagai bagian darinya. Tidak ada alasan bagi Kesultanan Ternate untuk tetap menjaga Suku Moro di bawah kekuasaannya, selain sebagai budak penyedia makanan bagi bangsa Ternate.

Pada tahun 1999[2], konflik berbasis agama kembali merubah struktur masyarakat Morotai hingga saat ini. Wilayah morotai pun terbelah ke dalam desa Islam dan desa Kristen.

Kisah Orang Moro di Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Pulau Morotai

Mari kembali ke masa sekarang, ke Pulau Morotai. Ada satu kisah tentang Orang Moro, yang keberadaanya antara ada dan tiada. Penduduk setempat tidak setuju jika saya menyebut Orang Moro adalah hantu. Mereka percaya bahwa Orang Moro ini adalah manusia seperti kita semua. Mereka makan, berpesta, dan memiliki harta–bahkan dipercaya sebagai kaum paling kaya di Pulau Morotai. Hanya saja, Orang Moro tidak bisa muncul ke lokasi area pemukiman. Entah karena mereka enggan, atau memang tidak bisa karena perbedaan energi dan dimensi.

Keyakinan tentang Orang Moro “sebagai bukan hantu–melainkan manusia dengan dimensi dunia yang berbeda”, mendapatkan pertentangan dari beberapa pemuka agama. Hal ini terjadi karena kehadiran Orang Moro ini tidak sesuai dengan konsep dan ajaran agama yang berlaku yang menentang perihal mistik. Para pemuka agama tersebut percaya bahwa tidak ada manusia lain selain manusia yang hidup di bumi ini dengan dimensi yang sama. Penolakkan tersebut juga berujung pada suatu keinginan untuk bertindak; adanya beberapa pendeta yang ingin “menghilangkan” Orang Moro dari kehidupan manusia.

Proses penghilangan Orang Moro ini terjadi secara simbolik maupun nyata. Secara simbolik, Penekanan doktrin dan ajaran agama Islam ataupun Kristen dilakukan agar apa yang ada di luar ajaran dan doktrin menjadi tidak ada. Secara nyata, para pemuka agama kerap menegur dan memberi peringatan keras kepada mereka yang masih berinteraksi dengan Orang Moro. Masyarakat lokal yang masih percaya dan berinteraksi dengan Orang Moro menjadi takut. Mereka harus bersembunyi untuk menyebut nama Orang Moro[3].

Orang Moro menjelma menjadi mitos di kehidupan sehari-hari masyarakat Morotai.  Untuk mengetahui bagaimana mitos ini bekerja, pernyataan bahwa Orang Moro “tidak nyata dan tidak masuk akal” dapat dikesampingkan terlebih dahulu. Dalam terciptanya suatu mitos, tentu ada andil dari mereka yang hidup di sekitar mitos itu sendiri. Lagi pula, Masyarakat Morotai juga percaya bahwa mereka memiliki hubungan dengan Orang Moro. Apalagi sebagian besar aktivitas utama masyarakat Morotai adalah pergi ke kebun yang berada di dalam hutan untuk mencari makan. Sedangkan Orang Moro diyakini tinggal di dalam hutan. Bisa jadi ketika sedang berada di dalam hutan dan Orang Moro berkehendak untuk berkenalan, dan mereka bisa saja muncul. Bagi masyarakat Morotai, selalu ada kesempatan untuk bisa bertemu dengan Orang Moro.

Orang Moro juga diyakini  sebagai orang asli Pulau Morotai. Hal itu menjadi sejalan dengan penduduk Morotai saat ini yang tidak mau menyebut diri mereka sebagai orang asli Pulau Morotai. Kebanyakan dari mereka justru berasal dari Pulau sekitar yang bermigrasi ke Pulau Morotai. Karena banyaknya migrasi ke Pulau Morotai, maka tidak heran jika budaya Pulau Morotai adalah budaya dari pulau-pulau sekitarnya. Menurut penelusuran kami, awal mula migrasi besar–yang tercatat–terjadi karena meletusnya Gunung Dukono di Halmahera pada tahun 1550. Migrasi terus terjadi hingga tahun 1980an, ketika orang-orang tengah mencari tempat tinggal dan lahan produktif di Pulau Morotai

Perjalanan penelitian etnografi ke Morotai menyadarkan saya akan satu hal; Ada kesamaan dalam setiap pembentukan mitos-mitos, melampaui latar belakang budaya dan geografis. Meskipun berbeda latar belakang budaya dan struktur sosialnya, saya melihat kemiripan logika dari terbentuknya mitos di Jawa dan Pulau Morotai. Misalnya saja, dalam kemunculan mitos hantu kuntilanak ataupun Wewe Gombel di Jawa. Kuntilanak dan Wewe Gombel merupakan kisah tentang perempuan yang meninggal dengan tragis karena diperkosa atau dibunuh ketika sedang mengandung. Kemunculan kedua mitos hantu tersebut adalah contoh bagaimana struktur lingkungan masyarakat dapat menjadi suatu kenyataan. Perempuan-diperkosa-lalu dibunuh. Kenyataan tersebut terproyeksi menjadi kenyataan lainnya yang melampaui kenyataan yang telah ada (abjeksi). Abjeksi atau proyeksi tersebut berubah menjadi ide-ide tentang mitos dan hantu yang hadir untuk menunjukkan perlawanannya terhadap apa yang menjadi objek pembentuk mereka.

Padahal, kalau dilihat kembali kedua hantu tersebut ada–meninggal dan menjadi hantu karena hasil kekalahannya terhadap kuasa manusia. Selain itu, kita dapat melihat  permasalahan sistemik yang mengakar, karena adanya patriarki dan objektifikasi tubuh perempuan. Namun dalam kisah Wewe Gombel dan Kuntilanak,  muncul kembali untuk “melawan” kuasa yang menjadikannya hantu–yaitu ego manusia beserta permasalahan sistemik yang menyertainya. “Melawan” bisa dirujuk kepada citra yang melekat terhadap hantu, yaitu menakut-nakuti atau balas dendam kepada manusia. Begitulah kira-kira contoh logika hantu-hantu di Jawa bekerja sebagai abjeksi atas struktur lingkungan pembentuknya.

Kejadian yang sama terjadi dengan Kisah Orang Moro. Orang Moro yang antara ada dan tiada adalah kisah tentang sekelompok manusia yang dipekerjakan menjadi budak dan dibantai bukan karena kesalahannya. Mereka adalah korban dari kontestasi kekuasaan, dengan agama menjadi salah satu penyebabnya. Hal ini terjadi ketika agama tidak lagi dilihat sebagai kepercayaan, melainkan juga identitas dan komoditi kekuasaan.

Setelah Orang Moro dibantai habis-habisan, kini Orang Moro hadir kembali sebagai mitos dengan ciri-ciri fisik yang diyakini sebagian besar orang adalah menyerupai orang Portugis; berbadan tinggi, berkulit putih, berparas tampan dan cantik, namun tidak memiliki filtrum (cekungan pada bibir atas). Tentu saja ini menjadi satu contoh bagaimana mitos terbentuk atas proyeksi dari realitas yang pernah ada. Secara realitas, mereka bukan lagi tidak ada, namun telah melampaui realitas tersebut. Tentunya, kita membutuhkan logika yang berbeda untuk bisa memahami kembali kehadiran mereka.

Namun sayang beribu sayang, kini mereka dipaksa untuk menghilang lagi oleh agama; yang kembali mengatur nilai dan tatanan sosial masyarakat Morotai.

Interaksi Orang Moro dengan Tubuh Manusia Melalui Makanan

Di awal pencarian kami tentang kisah Orang Moro, kami banyak diingatkan untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman apapun yang ada di dalam hutan. Jika kami nekat, maka bisa jadi kami telah mengonsumsi makanan yang diberikan Orang Moro. Melalui pemberian makanan kepada manusia, Orang Moro ingin menarik manusia untuk masuk ke dalam dunianya. Dengan melihat kembali ketakutan ini, saya melihat adanya logika lain yang menggerakinya.

Orang Moro dan manusia berada di dimensi yang berbeda, namun memiliki jenis makanan yang sama. Maka, hal yang sama tersebut, yakni makanan, bisa menjadi penghubung atas dua perbedaan yang ada. Keterhubungan ini akan menjadi lebih jelas apabila saya juga menceritakan aktivitas makan lainnya yang dimiliki oleh Orang Moro. Maka dari itu, akan saya ceritakan;

Selain keyakinan bahwa memakan sesuatu dari Orang Moro akan membawa kita pergi ke dimensi dunia milik mereka, ada juga kisah tentang nasi kuning dan Orang Moro. Konon, Orang Moro juga mencintai nasi kuning. Masyarakat Morotai memakan nasi kuning sebagai makanan sehari-hari. Pada tahun 1970-an, masih banyak penduduk Morotai yang melakukan persembahan nasi kuning kepada Orang Moro, misalnya saat mereka ingin membuka lahan baru. Persembahan nasi kuning ini seperti meminta ijin pada Orang Moro. Jika tidak melakukannya, Orang Moro bisa saja marah dan manusia bisa jadi tidak selamat. Tentu saja, nasi kuning itu tidak akan habis. Namun sari dari rasa nasi kuning itu dipercaya akan hilang dan terasa hambar setelah didiamkan di dalam lahan yang akan digunakan.

Makan dan minum adalah aktivitas dimana tubuh menerima sesuatu dari luar untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam proses itu, tubuh juga seringkali menunjukkan reaksi penolakan jika apa yang kita telan tidak sesuai dengan kehendak tubuh. Tidak heran, banyak aktivitas makan yang secara kultural memiliki perwujudan sebagai bentuk penerimaan atau penyambutan. Misalnya prosesi tumpeng dalam tradisi Jawa. Bagi masyarakat Jawa, tumpeng dibuat sebagai penanda dari ingin dimulainya sesuatu sekaligus medium untuk pemberian berkat. Tumpeng akan diberi doa serta dimakan bersama sebagai simbol penerimaan berkat. Setelah memakan tumpeng, maka tubuh kita juga turut menerima berkat yang telah diberikan melalui tumpeng. Dalam hal ini, berkat adalah satu hal yang melampaui logika. Tidak seperti kalori atau lemak yang dapat dihitung dengan angka, berkat tidak memiliki satuan maupun bentuk. Akan tetapi berkat dapat tumbuh dan merasuki tubuh sesuai dengan besarnya yang disisipkan ke dalam tumpeng. Mereka yang membuat, menghadiri, dan memberikan doa kepada tumpeng adalah mereka yang menyisipkan berkat ke dalam tumpeng. Mereka jugalah yang akan mendapatkannya kembali ketika memakannya. 

Jika Orang Moro lebih mudah untuk dihilangkan melalui doktrin agama, maka sebaliknya, akan lebih sulit untuk menghilangkan Orang Moro dari sudut pandang aktivitas makan. Makan adalah aktivitas harian dan semua makhluk di bumi ini melakukannya. Aktivitas memberi makan Orang Moro juga telah terikat ke dalam kebutuhan harian dan keberlangsungan hidup masyarakat Morotai. Selain itu, ada makna berkat di dalam makanan yang dimakan. Ada nilai tersemat di makanan yang ikut tertelan ke dalam tubuh secara material. Memang, tidak ada bukti atas kebenarannya, namun masyarakat Morotai sampai hari ini terus melakukan prosesi pemberian makan yang mengandung berkat. Ketika keyakinan terhadap Orang Moro masih kuat, dan mereka menyerahkan nasi kuning kepada Orang Moro, lahan dapat terbuka dengan lancar sekaligus mendapatkan berkat keselamatan.

Keterkaitan makan, nasi kuning, dan Orang Moro tersebut tentunya bertentangan dengan dogma agama yang melarang mempercayai hal mistik. Namun, aktivitas makan yang terjadi antara Orang Moro dan manusia bukan lagi tentang percaya dan tidak percaya. Aktivitas makan yang juga menciptakan ‘rasa’ telah berhasil melampaui logika rasa yang bersandar pada indera pengecap. ‘Rasa’ di sini bisa menjadi penghubung antara material (makanan, pelaku makan, dan tempat; dalam hal ini nasi kuning, penduduk Morotai, di Pulau Morotai), sisi emosional (perasaan dari hati yang muncul karena aktivitas makan), dan sisi mistik (cerita ketakutan terhadap mitos). Adanya ‘rasa’ sebagai penghubung menjadi penting dalam menyatukan kepingan narasi Orang Moro; yang terpenggal-penggal sebagai abjeksi dari realita yang pernah ada.              

Orang Moro menjadi metafora tentang permasalahan struktur yang lebih luas dan besar. Keberadaan mereka melampaui keabsahan mitos antara ada dan tiada. Mereka memiliki suara yang patut untuk didengar. Suara tentang kekerasan yang terjadi di masa lalu, yang masih berbekas hingga saat ini. Suara itu tersampaikan melalui kisah-kisah menakutkan ataupun kemegahan kaum mereka– paras menawan dan kekayaannya. Namun dibalik berbagai kisah yang menyelimutinya, terdapat kenyataan yang perlu digaris bawahi; bahwa sebagai manusia, mereka merupakan korban penindasan dan kekuasaan.


[1] Hasil dari penelusuran lapangan, beberapa literasi online dan offline untuk menyusun Timeline projek seni Moro Moro oleh Bakudapan. Timeline sedang dipamerkan dalam Singapore Biennale 2019 dari bulan November 2019-Maret 2020 di Lasalle University, Singapore.

[2] Pada tahun 1999 terjadi kerusuhan di Pulau Morotai. Menurut kisah warga, kerusuhan terjadi antara warga yang memeluk agama Islam dan Kristen. Cerita lisan banyak membicarakan bahwa pelakunya adalah warga yang memeluk agama Islam dan ingin membunuh warga pemeluk agama Kristen. Banyak rumah terbakar dan warga pergi mengungsi untuk menyelamatkan diri. Mulai dari konflik tersebut, stereotype terhadap agama Islam menjadi lebih tegas  dan masih tabu untuk membicarakan konflik ini.

[3] Orang yang memiliki interaksi dengan Orang Moro dengan istilah “memelihara orang Moro”. Bahkan menurut salah satu orang yang kami temui, Orang Moro memiliki nama masing-masing layaknya manusia. Ia pun memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Orang Moro karena mampu memberikan kekuatan untuk menyembuhkan orang. Maka dari itu, jika Orang Moro “dihilangkan” maka ia bisa kehilangan pekerjaannya.