Holding their pots Somali children from southern Somalia, lineup to receive cooked food in Mogadishu, Somalia, Monday, Aug. 15, 2011. The World Food Program said Saturday that it is expanding its food distribution efforts in famine-struck Somalia, where the U.N. estimates that only 20 percent of people needing aid are getting it.(AP Photo/Farah Abdi Warsameh)

Bukan Sulap Bukan Sihir: Makanan Ajaib ini Mampu Atasi Kurang Gizi di Negara Miskin

Elia Nurvista

Sengaja judul tulisan ini dibuat ala Koran Tribun supaya menjadi clickbait. Sebenarnya tulisan ini merupakan terjemahan dan rangkuman dari artikel yang berjudul Miracle Foods: Quinoa, Curative Metaphors, and the Depoliticization of Global Hunger Politics oleh Emma McDonell yang dimuat dalam jurnal Gastronomica, edisi Desember 2015. Artikel Emma sungguh menarik karena melihat persoalan yang kompleks antara masalah global dari malnutrisi atau kurang gizi dan kaitannya dengan politik pangan dari negara-negara dan organisasi-organisasi besar “penyelamat” dunia dengan cukup kritis dan jeli. Mungkin banyak diantara kita percaya bahwa persoalan kurang gizi, terutama di Asia, Afrika dan Amerika Selatan adalah sesederhana yang dipaparkan media massa. Karena bencana alam, iklim geografis yang tandus dari suatu wilayah atau negara, pertumbuhan penduduk yang melonjak tinggi serta ketertinggalan ilmu pengetahuan dan teknologi diikuti dengan ketidakmampuan pemerintah memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Narasi penemuan teknologi dan pemberian bantuan pangan dari organisasi kemanusiaan dan negara “maju” yang terjadi sesungguhnya merupakan depolitisasi dari persoalan kelaparan yang sebenarnya, yaitu persoalan ketimpangan ekonomi, aksesibilitas, perampasan lahan dan seterusnya. Dengan memaparkan tiga contoh kasus pada jagung o2, Golden Rice dan Quinoa sebagai “miracle food” dalam rentang waktu dan pendekatan yang berbeda, tulisan ini menunjukan bahwasannya wacana tentang sebagian penduduk dunia yang kurang qizi, miskin dan terbelakang sarat dengan persoalan politik kuasa dari segelintir aktor-aktor global. Sekali lagi, bukan berarti soal kelaparan, malnutrisi dan kurang gizi itu tidak ada, tetapi bagaimana hal ini dimediasi dan solusi-solusi yang sifatnya patronizing dan juga ekplotitatif ini yang menjadi persoalan utama.

Setelah kehancuran pasca perang dunia kedua, dunia diliputi kecemasan terhadap kondisi kurang pangan. Menurut teori Malthus tentang pertambahan penduduk, pasokan pangan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang jumlahnya akan melesat dan berkali lipat. Jutaan orang akan binasa atau terjadi menurut logika, kecuali jika negara-negara “maju” campur tangan dengan kemampuan mereka dalam sains dan teknologi untuk memberi makan penduduk yang lapar. Sejak saat itu persoalan kurang pangan masuk dalam agenda ilmu pengetahuan dan sains. Mereka kemudian mendefinisi, menklasifikasi dan memetakan negara dan penduduknya yang kurang gizi atau malnutrisi dengan perhitungan yang sifatnya kuntitatif. Seolah perhitungan ini bersifat objektif dan tidak punya kepentingan politik, padahal hasil-hasil dari perhitungan ini akan berimbas pada intervensi politik dan budaya pada suatu negara. Misalnya, jika “kelaparan” dalam arti kekurangan pasokan makanan adalah masalahnya, maka bantuan makanan massal adalah solusinya. Jika “malnutrisi” karena terlalu mengandalkan satu jenis makanan yang bergizi rendah adalah masalahnya, mengganti makanan itu dengan makanan bergizi tinggi adalah solusi yang rasional. Dan tentu saja seperti yang kita tahu “tidak ada makan siang yang gratis” bantuan ini harus tidak datang dengan cuma-cuma. Berkebalikan dengan slogan di gerobag tukang cilok “hari ini bayar besok gratis”, bantuan ini pada awalnya dikirim sebagai bantuan kemanusian, yang berakhir dengan kesepakatan penggunaan/penjualan benih yang eksklusif, regulasi impor dan sebagainya.

Lebih lanjut tulisan ini akan membahas tentang solusi dari persoalan pangan tersebut yang diusulkan lewat istilah Miracle Food Narrative (MNF). Istilah ini digunakan oleh Emma, penulis artikel ini, untuk menggambarkan bagaimana narasi makanan ajaib merupakan strategi yang muncul sejak tahun 60an untuk mengatasi kelaparan global. Narasi ini terus bereinkarnasi dengan metafor-metafor dan jargon-jargon yang arif bijaksana sesuai konteks waktu tetapi sarat akan kepentingan kapitalis di baliknya. Dalam tulisannya, Emma memproblematisir logika dasar dari miracle food untuk mempertanyakan pemahaman ilmiah Barat tentang kelaparan. Logika ini menyebut secara langsung persoalan kelaparan yang terjadi akibat kurangnya pasokan pangan atau kandungan gizi bahan pokok, dst dan seolah-olah menyalahkan si orang lapar itu sendiri. Sementara persoalan yang lebih struktural seperti ekonomi politik global, dikaburkan. Narasi krisis yang dibangun bahwa kelaparan hanyalah sebagai masalah biomedis oleh karenanya solusi seperti miracle food inilah yang diciptakan. Dengan cara patronase yang seolah merupakan pemberian Barat dengan sifat filantropinya, sementara mengaburkan persoalan akses terhadap pangan dan perampasan tanah yang terjadi yang jika diturut ulang merupakan akibat langsung maupun tak langsung dari kolonialisme Barat.

Keadaan kekurangan gizi bukanlah fenomena baru, tetapi secara saintifik, terma malnutrisi baru dibangun pada pertengahan abad ke20, sebagai bagian dari program pembangunan internasional. Organisasi dunia seperti PBB, Bank Dunia (World Bank), IMF diciptakan untuk mengkoordinasi pembangunan internasional ini. PBB mengambil peran sentral dalam pengurangan gizi buruk, mengoordinasi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian (IFAD), dan Program Pangan Dunia (WFP), yang masing-masing bertugas menangani produksi, distribusi, dan bantuan pangan. Proyek pembangunan internasional ini secara otomatis mengklasifikasi ulang posisi antara colonizers/colonized (penjajah/terjajah) atau menjadi negara Dunia Pertama / Dunia Ketiga atau developed/developing (negara maju/berkembang), memisahkan intervensi sebagai bentuk kolonialisme, dan membingkainya sebagai bentuk kebajikan. Kategori “terbelakang” atau underdeveloped dikonstruksi melalui indeks kuantitatif buta huruf, kemiskinan, dan gizi buruk, yang kemudian masing-masing merasionalkan kontrol pihak luar terhadap pendidikan, ekonomi, dan persediaan makanan. Intervensi yang tak terhitung jumlahnya dari negara-negara “maju” terhadap negara-negara “terbelakang” awalnya dirasionalisasi melalui bantuan pangan dan paket-paket bantuan yang selalu datang dengan relasi “hutang budi”. Sampai tahun 1950-an, persoalan “lapar,” selalu digambarkan sebagai suatu sebutan yang mengimajinasikan perut kosong penduduk global south yang homogen dan perlu diisi. Dengan demikian, era tersebut didominasi oleh bantuan makanan dalam bentuk tepung gandum curah dan surplus lainnya, terutama dari Amerika Serikat. Kemudian dengan merekrut banyak tenaga ahli dibidang ahli gizi, ahli demografi dan ahli ekonomi, badan politik dan organisasi ini membuat laporan dan menentukan saran serta solusi soal pangan. Para ahli ini lalu menguraikan solusi, yang semuanya memerlukan tindakan negara Dunia Pertama. Dengan mendefinisikan, memetakan, mengusulkan dan menjalankan solusi untuk kelaparan, badan-badan politik “Dunia Pertama” ini serta merta menjalankan kekuasaannya atas tubuh-tubuh manusia”Dunia Ketiga”.

Jagung Ber-lysin Tinggi

Jagung telah didomestifikasi sekitar sembilan ribu tahun yang lalu, pertama kali di daerah yang sekarang disebut Mexico. Dahulu jagung dipandang sebagai makanan yang bernutrisi rendah oleh kolonial Eropa, hanya karena mereka terbiasa mengkonsumsi gandum. Lalu mereka membawa jagung ke benua Eropa dan kemudian memperkenalkannya ke benua Afrika diabad ke16 namun jagung baru menjadi tanaman pangan pada pertengahan abad ke 20.

Ketika Revolusi Hijau dianggap menyebarkan benih dengan hasil berkualitas tinggi dari praktik pertanian “modern” ke seluruh dunia melalui inisiatif teknologi pada 1960-an dan 1970-an, liputan media yang luas tentang kelaparan di Biafra, Bangladesh, dan Cina terus di siarkan kepublik luas. Direktur FAO menyerukan percepatan “perang melawan kelaparan dan kekurangan gizi” di majalah Time bersama foto-foto anak-anak Afrika yang kelaparan (Time 1959). Kelaparan dan Revolusi Hijau dihubungkan dengan cara yang rumit ketika “de-peasantization” (penyusutan kepemilikan tanah dan hasil tani oleh petani) dan industrialisasi pertanian mengacaukan basis produktif sistem pangan sebelumnya. Namun, lembaga pembangunan dan media massa membingkai hubungan antara kelaparan dan modernisasi pertanian sebagai hubungan masalah dan solusi yang sederhana.

Pada tahun 1950-an, para ahli gizi menetapkan kekurangan protein sebagai penyebab kelaparan global, mendorong lembaga-lembaga pembangunan untuk mencari sumber protein yang hemat biaya. Ketika para peneliti di Universitas Purdue menciptakan mutan jagung yang disebut Opaque (2) atau o2 pada tahun 1963, mengklaim bahwa solusi atas protein yang hemat biaya telah ditemukan. Protein dalam jagung biasa dianggap “berkualitas rendah” karena kekurangannya dalam lisin dan triptofan, tetapi o2 diklaim mampu menggandakan kandungan asam amino ini. Dengan mengubah rasio asam amino, jagung diubah menjadi protein “berkualitas tinggi”, sehingga secara teori mirip dengan telur.

Media menganggap jagung o2 sebagai terobosan dalam “perang melawan kelaparan”. Yayasan Rockefeller Foundation dan FAO mensponsori percobaan implementasi dan studi gizi. o2 sejalan dengan kepentingan berbagai kelompok: praktisi pembangunan, ahli gizi, ekonom, dan masyarakat Dunia Pertama. Para pendukung Revolusi Hijau dapat menambahkan “keajaiban” untuk kampanye yang memperkuat citra kemanusiaan mereka. Mereka membuktikan adanya hubungan antara produksi jagung o2 dan pengurangan malnutrisi, sehingga membenarkan ekspansi jagung ini karena akan memberikan penangkal kekurangan protein. o2 adalah kemajuan yang mendukung pernyataan mereka bahwa program kelaparan harus berpusat pada defisiensi protein. Warga First World, yang prihatin dengan anak-anak di foto majalah Time, bisa bernafas lega karena bukan hanya berakhirnya persoalan malnutrisi, tetapi juga karena Amerika yang membantu dalam pemberantasannya. Ahli ekonomi menilai bahwa ini adalah solusi terbaik, mengingat protein hewani tidak hemat biaya dalam hal produksi protein per unit tanah. Sedangkan kelompok kepentingan yang sudut pandangnya tidak masuk ke dalam akun media dan laporan pembangunan itu, ya orang-orang yang kurang gizi itu sendiri. Tega kan?

Ketika Yayasan Rockefeller memulai uji coba jagung o2 di Kolombia, para petani tidak terkesan. Dua masalah kritis menghambat potensi makanan ajaib ini adalah: jagung dengan hasil yang buruk dan karakteristik rasa yang berbeda. Selain itu, tekstur dan rasa jagung o2 jelas berbeda dari jagung biasa dimana tidak bisa meniru tortilla saat diproses. Petani yang menolak untuk menanam o2 ini dicaci maki oleh para ilmuwan tanaman pangan sebagai bentuk ketidaktahuan. Mereka menyebut petani-petani tersebut masih primitif dan percaya takhayul karena tingkat pendidikan yang rendah, yang tidak mampu berpikir dengan logika modern. Pada pertengahan 1970-an, jagung o2 telah menghilang dari pasaran, dan ditemukan penggunaannya lebih populer sebagai pakan babi. Jagung o2 memangkas biaya pemeliharaan babi sebesar1–2 USD per ekor dan digunakan sampai hari ini di Amerika Serikat.

Kisah jagung o2 ini memaparkan konseptualisasi kelaparan oleh negara Dunia Pertama di abad pertengahan. Jagung o2 adalah anugerah dalam kerangka yang memahami kelaparan sebagai masalah biomedis homogen yang seolah hanya membutuhkan jawaban tunggal. Persoalan makanan yang bervariasi dan preferensi selera tidak dianggap sebagai suatu tolak ukur. Keyakinan dengan adanya satu solusi untuk semua, menggambarkan ilustrasi bahwa kekurangan gizi sebagian besar sama di seluruh dunia, dan dengan penawar yang tepat, dapat disembuhkan. Kisah ini mengaburkan hubungan antara teknologi, kapitalisme, ketimpangan sosial, dan gizi buruk. Sementara metode dan kapitalisasi sistem pertanian melalui Revolusi Hijau adalah salah satu penyebab meningkatnya angka kekurangan gizi, “miracle food” membalikkan hubungan ini, dengan mempromosikan lebih banyak teknologi dan usaha kapitalis sebagai solusinya. Menurut logika “miracle food”, negara Dunia Pertama tidak bersalah karena kerawanan pangan, malahan merekalah yang mengatasinya.

Kisah Golden Rice

Pada tahun 1990-an, defisiensi vitamin A (VAD) atau kekurangan vitamin A karena kurangnya buah dan sayuran yang mengakibatkan kebutaan, berkurangnya kekebalan tubuh, dan kadang-kadang kematian, mendominasi diskusi tentang kekurangan gizi. Pada waktu itu, 100–300 juta anak-anak yang tinggal di pedesaan terutama di Asia, dan pada tingkat lebih rendah di Afrika dan Amerika Latin, mengalami kekurangan vitamin A. Pada tahun 1992, WHO dan UNICEF menyatakan salah satu agenda utama mereka adalah memberantas kasus kekurangan vitamin A pada tahun 2000. Mereka juga menyatakan banyak kasus kekurangan vitamin A pada kelompok masyarakat yang menggantungkan makanan pokok mereka pada beras, karena beras konvensional dinilai kekurangan vitamin A.

Sementara pada saat yang sama, industri rekayasa genetika sedang menghadapi kritik besar-besaran secara publik. Polemik yang berlangsung bahwa selama bertahun-tahun, industri hasil rekayasa genetika (GMO/ Genetically modified organism) hanya melayani kepentingan agribisnis saja dengan membuat klaim tidak berdasar bahwa rekayasa genetika dapat menyembuhkan kekurangan gizi. Pada tahun 1999, penelitian oleh Dr. Ingo Potrykus yang didanai dari Rockefeller Foundation menemukan bahwa menambahkan potongan bakteri dan DNA daffodil ke dalam beras dapat menghasilkan beras dengan beta-karoten, pigmen merah-oranye yang ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran yang kemudian mampu diubah menjadi vitamin A di dalam usus manusia. Dengan segera, “Beras Emas” (Golden Rice) yang merupakan hasil dari rekayasa genetika alias GMO ini dipuji sebagai makanan ajaib berikutnya.

Potrykus tampil di sampul majalah Time dengan judul “This Rice Could Save a Million Kids a Year”, sembari memegang butir Golden Rice. Pada Juli 2000, perusahaan Syngenta membeli secara eksklusifhak paten atas Golden Rice, dan berjanji untuk menyebarkannya ke seluruh dunia. Pada 2005 peneliti dan ilmuwan menciptakan Golden Rice versi 2 (GR2), dengan dua puluh kali lipat beta-karoten asli (Golden Rice Humanitarian Board 2013). Kemudian Syngenta menyumbangkan lisensiGR2 untuk Proyek Kemanusiaan Padi Emas, sebuah proyekkemitraan yang diketuai oleh Dr. Potrykus dimana ia menerima danadari Bank Dunia, Yayasan Bill dan Melinda Gates,USAID, Rockerfeller Foundation, dan Syngenta Foundation sendiri. Berikutnya GR2 dipromosikan bersamaan dengan ekspansi besar-besaran GMO, yang menunjukan penemuan saintifik ini berfungsi sebagai bukti atas tujuan mulia dari perusahaan teknologi pertanian dan industri pangan. Tidak lupa, narasi-narasi atas kekurangan vitamin A yang dibangun menggunakan logika pornografi kemiskinan, dimana banyak bertebaran citra-citra orang-orang negara dunia ketiga yang menderita karena buta, miskin dan kurang vitamin, sehingga terasa lebih emosional. Narasi-narasi ini membingkai kekurangan gizi sebagai masalah biomedis tentang kekurangan vitamin tunggal dan menyiratkan solusinya juga biomedis, yang dalam hal ini mengharuskan GMO. Jika masalahnya adalah kekurangan vitamin A, maka beras yang mengandung beta-karoten adalah solusi logis. Dengan menitik beratkan pada dua pesan kampanye yang pro-GMO, yaitu: pertama, mereka mengklaim bahwa Golden Rice hasil GMO ini merupakan mukjizat untuk mengatasi kekurangan vitamin A; dan kedua, bahwasannya aktivis yang anti-GMO adalah “anti-kemanusiaan.”

Sementara itu polemik antara kelompok yang pro GMO dan anti GMO terus bergulir. Para anti GMO berpendapat, kapsul vitamin A yang telah beredar dipasaran dapat mengatasi masalah kekurangan vitamin A, ditambah lagi sebenarnya mengkonsumsi 2 sendok makan wortel per hari sudah mampu mencukupi kebutuhan vitamin A orang dewasa. Ketika pertikaian ini diangkat, kelompok pro-GMO berpendapat bahwa Golden Rice lebih hemat biaya, klaim yang aneh mengingat miliaran dolar yang telah dituangkan ke dalam pengembangan Golden Rice.

Seperti jagung o2, kisah Golden Rice menarik bagi warga “Dunia Pertama”, praktisi pembangunan, dan agribisnis. Gagasan bahwa teknologi “Dunia Pertama” akan menyembuhkan malnutrisi di “Dunia Ketiga” menjadikan para ilmuwan “Dunia Pertama” sebagai penyelamat, menyembuhkan masalah-masalah orang miskin, menderita, dan orang-orang yang terbelakang. Lagi-lagi alur cerita ini mengaburkan koneksi antara masalah kekurangan vitamin A dengan perluasan industri pertanian modernis yang membuat makanan komoditas massal seperti beras murah, buah dan sayur sulit diakses. Golden Rice membatasi skala analisis, berfokus pada kekurangan vitamin A daripada ketidaksetaraan struktural. Perspektif sebab dan akibat yang sempit ini membayangkan masalah global dan solusi universal. Namun, dalam kerangka biomedisnya, masalahnya tetap terpisah dari ekonomi politik global. Seperti yang ditegaskan oleh Vandana Shiva, “Golden Rice adalah bagian dari paket pertanian global yang justru menciptakan kekurangan gizi, dan para ilmuwan yang menganjurkan Golden Rice mungkin menderita bentuk kebutaan yang lebih parah daripada anak-anak di negara-negara miskin”.

Kebangkitan Quinoa

Makanan ajaib berikutnya adalah quinoa, tanaman menyerupai biji-bijian yang mendominasi sejak lima ribu tahun yang lalu di dataran tinggi Andes. Quinoa berfungsi sebagai makanan pokok dan landasan budaya bagi banyak masyarakat di Andes dan sampai saat ini diproduksi dan dikonsumsi hampir secara eksklusif di sana. Di dalam Kekaisaran Inca, quinoa dikenal sebagai “Mother Grain” (chisma mama di Quechua), memainkan peran yang dominan dalam aktivitas ritual dan makanan sehari-hari. Setelah mengamati sentralitasnya dalam struktur sosial Kekaisaran Inca, raja muda Spanyol yang mengkolonisasi Amerika Selatan, melarang produksi dan konsumsi quinoa dan memerintahkan menggantinya dengan biji-bijian Eropa seperti gandum dan sorgum. Upaya orang-orang Spanyol untuk memberantas quinoa terbukti tidak berhasil dan para petani terus menanams dan makan quinoa secara sembunyi-sembunyi, terutama di daerah dataran tinggi di mana tidak terjangkau impor dari Eropa.

Dengan kandungan protein hingga 20%, menggandung 9 asam amino esensial, tanpa gluten, dan sejumlah vitamin dan mineral, profil nutrisi quinoa sangat luar biasa. Ditambah kemampuan luar biasa quinoa untuk berkembang di dataran tinggi Andes di ketinggian lebih dari 14.000 kaki, di mana tanah yang miskin nutrisi, sering kekeringan, dan sering dilanda badai El Nino. Selain itu, tanaman mirip sereal ini mencakup lebih dari tiga ribu varietas yang masih ada; keragaman genetik yang ekstrim ini berarti dapat dengan mudah dikembangkan dan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, menjadikan quinoa pantas masuk kategori miracle food.

Mengingat kegagalan kedua miracle food sebelumnya yang berfokus pada nutrisi tunggal, wacana dan narasi quinoa mengalami modifikasi konsep, yang akan menekankan pada narasi sosio-historis. Dengan menekankan bahwa quinoa telah dibudayakan oleh petani Andes sejak ribuan tahun lalu, wacana yang dibangung tidak lagi memposisikan “tradisional” dan ilmu sains” sebagai sesuatu yang berlawanan. Malahan ungkapan kearifan lokal, berkelanjutan, dan multikultural dijadikan jargon baru dalam memperkenalkan quinoa sebagai miracle food. Lagi-lagi dengan jargon-jargon itulah para organisasi dunia mendepolitisasi persoalan pangan yang kali ini diperluas dengan persoalan perubahan iklim serta hilangnya keanekaragaman hayati. Dengan wacana kerentanan pangan yang makin kompleks, quinoa dibingkai sebagai alat untuk mengurangi malnutrisi perkotaan di wilayah Andes dan memasukkan petani lokal ke dalam ekonomi nasional, yang siap untuk budidaya global atas tanaman yang mampu beradaptasi pada perubahan iklim.

Setelah empat abad diabaikan, quinoa mulai menarik perhatian para peneliti dan praktisi pembangunan pada akhir 1960-an. Sejumlah ahli agronomi Peru dan Bolivia yang secara pendanaan didukung oleh OXFAM dan FAO memprakarsai proyek-proyek yang memeriksa karakteristik kualitas gizi dan melakukan program pemuliaan quinoa pertama yang berupaya mengembangkan kuinoa komersial. Pada 1968, pertama diselenggarakan konfrensi tentang quinoa dengan lebih dari empat puluh peneliti dari Bolivia dan Peru. Setelah gelombang penelitian ini, quinoa dilihat sebagai peluang pengembangan nasional potensial untuk Peru dan Bolivia selama tahun 1970-an. Kementerian pembangunan pertanian negara mendukung studi yang menilai kelayakan formalisasi pasar quinoa domestik, membingkai komersialisasi kuinoa sebagai peluang untuk mengurangi tingkat malnutrisi perkotaan yang meningkat sambil mengintegrasikan petani subsisten yang “secara ekonomi tidak produktif” ke pasar kapitalis. Ekspor Quinoa dari Bolivia meningkat secara bertahap sepanjang 1990-an, dan tidak sampai awal 2000-an dimana permintaan di luar Andes melonjak, mendorong Ekuador dan Peru untuk dengan cepat mengembangkan pasar ekspor untuk memanfaatkan apa yang kemudian dikenal sebagai “Boom Quinoa”.

Selama tahun 1980-an, biji quinoa didistribusikan ke lebih dari lima puluh negara, dan quinoa diekspos sebagai “Tanaman yang Hilang dari Inca”, di mana benih itu direkomendasikan untuk ditanam di seluruh dunia dan dinilai sebagai “biji-bijian masa depan”. Pada tahun 1996, FAO mendeklarasikan quinoa sebagai salah satu

“tanaman yang paling menjanjikan bagi umat manusia” dan segera setelah itu menyelenggarakan Tes Quinoa Amerika dan Eropa untuk mengevaluasi

kemampuan quinoa untuk tumbuh di Amerika Utara, Eropa, Afrika, dan Asia.

Wacana quinoa mampu beradaptasi dengan wacana pembangunan di tahun 90an, dimana peran “budaya” dan “lingkungan” menjadi penting. Belajar dari kegagalan sebelumnya, pada 1970-an, para perencana pembangunan mulai menyadari bahwa proyek sebelumnya yang tidak berhasil karena kurang “sensitif secara budaya”, dan pada awal 1990-an lembaga pembangunan multilateral seperti Bank Dunia sedang menyusun kembali tujuan untuk mendorong, yang disertai amanat “pembangunan multikultural” dan “pengetahuan ekologi secara tradisi”. Budaya, tradisi, dan pengetahuan tradisional tiba-tiba tidak lagi dianggap sebagai rintangan untuk maju, tetapi sebagai sumber daya penting untuk pembangunan, berbeda dengan pemikiran sebelumnya.

Namun, wacana multikulturalisme yang muncul sering dibaca hanya sebagai “perayaan budaya yang telah lama tidak dianggap dan diremehkan”. Wacana “multikulturalisme neoliberal” yang muncul pada 1990-an perlu diwaspadai sebagai proyek yang secara bersamaan “menjinakkan” ekspresi indigenous baik secara halus maupun dengan kekerasan dan juga menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. Dengan menentukan dan menyeleksi bentuk-bentuk ekspresi dan pengetahuan indigenous yang “dapat diterima” juga secara otomatis membatasi lingkup politik mereka. Dengan hubungan kuasa yang sangat tidak setara, bagaimana kita memuji-muji quinoa sebagai produk budaya mereka sebagai masyarakat miskin, namun juga secara bersamaan membatasi ekspresi dan definisi tentang quinoa yang dibuat oleh mereka.

PBB mendeklarasikan tahun 2013 sebagai Tahun Internasional Quinoa (IYQ/International Year of Quinoa), dengan meluncurkan serangkaian acara selama setahun yang ditujukan untuk mempromosikan quinoa sebagai makanan dan tanaman miracle. PBB menekankan program ini sebagai pengakuan atas masyarakat adat Andes, yang “telah memelihara, mengendalikan, melindungi, dan melestarikan quinoa sebagai makanan bagi generasi sekarang dan masa depan, berkat pengetahuan tradisional dan praktik kehidupan yang selaras dengan alam dan mother earth.” Disertai dengan foto-foto wanita yang mengenakan rok tradisional dan kepang panjang, membangkitkan citra umum akan masyarakat pribumi Andes. Meskipun retorika ini sangat mengakui peran “masyarakat tradisional” namun juga menyiratkan posisi mereka hanya sebagai “penjaga,” dan  berhenti memberi kontribusi kepada masyarakat adat atas “penciptaan” quinoa. Sementara para ilmuwan secara eksplisit adalah penemu jagung o2 dan golden rice, para petani Andean dibingkai sebagai “pelayan” pasif. Dalam narasi ini, quinoa adalah produk “alami” yang dilestarikan oleh penduduk asli. Namun, siapa pun yang memiliki pengetahuan dasar tentang domestikasi pertanian tahu bahwa tanaman yang didomestikasi tidak secara alami terjadi, tetapi hasil dari kerja keras pemilihan dan adaptasi benih. Secara khusus, dengan keragaman intraspesifiknya yang luar biasa, keadaan quinoa saat ini adalah hasil dari keputusan sadar yang dibuat oleh para petani di Andes yang telah memilih, bertukar, dan bereksperimen dengan varietas, dan terus melakukannya hingga hari ini.

Sejalan dengan keajaiban quinoa, kelompok dengan berbagai minat dan kepentingan mulai mengerubungi quinoa sebagai subjek potensial mereka. LSM seperti Biodiversity International dan Slow Food International, lembaga pembangunan termasuk Bank Dunia, organisasi pembangunan lokal baik di dalam maupun di luar Andes, pemerintah nasional, mulai malakukan kolaborasi terkait quinoa. Namun, ketegangan dan ketidakkonsistenan muncul di antara berbagai visi “pengembangan quinoa” pada awal 2000-an yang semakin intensif dengan dorongan menuju ekspansi global produksi kuinoa dan booming pasar ekspor, yang hingga saat ini dipasok secara eksklusif oleh negara Peru dan Bolivia. Mereka yang berinvestasi dalam pasar ekspor yang sedang booming di Andes takut bahwa propagasi global quinoa akan meratakan harga yang meroket dan menurunkan keunggulan kompetitif yang diuntungkan oleh negara-negara Andean sebagai satu-satunya pemasok quinoa. Ketakutan bergema dalam kehidupan petani quinoa di Peru yang hidupnya tergantung pada quinoa, dari produsen hingga ke pemulia tanaman. Karena itu, banyak pihak yang berafiliasi dengan petani quinoa Andean melihat propagasi global tidak sesuai dengan pengentasan kemiskinan di dataran tinggi Andes. Hal ini menunjukkan kontradiksi dalam tujuan pengurangan kemiskinan di Andes melalui ekspor quinoa dan pengentasan malnutrisi pada skala yang sama. Sementara harga tinggi, berarti membuat quinoa terlalu mahal bagi kaum miskin kota di negara-negara Andes, yang dengan cepat mengganti bahan pokok ini dengan beras impor dan mie gandum. Sama halnya, beberapa orang mulai mempertanyakan apakah ledakan ekspor itu termasuk kontribusi quinoa untuk ketahanan pangan di Andes sendiri? Namun kontradiksi dalam retorika luhur ini terselubung oleh daya pikat dari quinoa yang dibingkai sebagai obat potensial untuk kelaparan, kehilangan keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim.

Sementara retorika terima kasih kepada orang-orang pribumi Andes mendominasi pembingkaian quinoa sebagai makanan ajaib, hasil sebenarnya yang diterima orang-orang pribumi dari proyek globalisasi quinoa sangat minim. Proyek ini juga mengaburkan ekspansi geografis dari produksi kuinoa, yang dengan tujuan heroiknya untuk menyembuhkan kelaparan global, namun secara ekspansif merongrong petani dan produsen Andes. Pada awal 2014 benih quinoa di uji coba di empat puluh negara untuk produksi komersial termasuk Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Belanda, Denmark, Italia, India, Kenya, Maroko, dan Cina, membuat pemerintah Bolivia dan Peru kemudian melindungi dan melarang plasma nutfah quinoa keluar dari negara mereka. Ketika produksi quinoa meluas ke daerah-daerah dengan produktivitas pertanian yang jauh lebih tinggi daripada dataran tinggi asli quinoa, petani di pegungan Andes berjuang untuk bersaing. Kelebihan produksi telah menyebabkan harga di tingkat petani merosot sejak 2014 dan banyak petani kecil dataran tinggi ini terpaksa untuk menjual dengan harga rendah. Kontradiksi antara memuji petani Andes karena “melestarikan” quinoa dan pemahaman seharusnya kelompok masyarakat ini juga mendapatkan manfaat ekonomi darinya memunculkan paradoks tentang proyek-proyek merayakan budaya indigeneous.

Dengan rangkuman tiga narasi mengenai miracle food tersebut artikel ini ingin menegaskan tentang metafora kelaparan global dan tantangan “pembangunan” lainnya. Kisah-kisah tentang obat mujarab untuk mengatasi kelaparan yang sangat populer dan menarik karena tampaknya mampu memecahkan masalah yang paling mendesak sesuai zamannya. Namun sesungguhnya daya tarik kisah-kisah ini justru terletak pada kemampuan mereka yang luar biasa untuk mendepolitisasi isu-isu politik dibaliknya. Karena 30% orang di negara “berkembang” menderita semacam penyakit terkait pangan yang dikarenakan persoalan ketidakadilan ekonomi politik, sangat penting bagi kita untuk menyadari pencarian sia-sia untuk makanan makanan ajaib lain dan mulai menghadapi penyebab utama kekurangan gizi: relasi kuasa, ketidaksetaraan, dan pertanian padat modal yang merampas lahan petani-petani miskin.

Ilustrasi foto oleh : Farah Abdi Warsameh , Diambil dari https://www.britannica.com/science/famine