#Workshop #Plating #Foodstagram

#Workshop #Plating #Foodstagram

 

Mengapa workshop plating dan instagram jadi bagian dalam proyek Fast and Foodrious?

Kamis lalu (11/6/15), agenda kami adalah melakukan workshop, platting, dan foodstagram yang akan dibina oleh Dadad Sesa (Java Foodie) seorang foodgrammer yang sudah cukup dikenal para netizen instagram Jogjakarta. Dalam akunnya @JavaFoodie (dulunya @HungerRanger) Dadad sering mengunggah foto-foto makanan, baik makanan utama, makanan kecil, maupun minuman dan berbagai jenis makanan penutup sebagai ikon dari akun yang ia kelola.

Berkaitan dengan itu pula kami dengan semangat mengundang Dadad sebagai narasumber, karena kami anggap sudah cukup mumpuni dalam dunia foodgrammer. Terbukti dari jumlah pengikut di akun Instagram maupun jumlah pengunjung di blog (www.javafoodie.co).

Lebih jauh, kami ingin mengetahui tentang perasaan dan pengalaman orang dalam mengkonsumsi fast food dan kaitannya dengan fenomena food porn atau mengunggah foto makanan di jejaring sosial, khususnya instagram yang fokus pada fotografi.

Apakah alasan orang mengungah foto-foto makanan di instagram?

Kami berangkat dari asumsi bahwa foto di akun jejaring sosial seseorang dapat menjadi perwakilan atau merepresentasikan image dari dirinya. Tentu orang akan memilah dan mengkurasi foto dari peristiwa apa yang akan ia unggah, yang dapat membantu orang lain memahami image yang ingin ia bentuk.

Peristiwa makan menjadi salah satu pilihan orang untuk menjelaskan siapa dirinya lewat menunjukan apa yang ia makan.

Makanan seperti apa yang upload-able?

Kami juga berasumsi bahwa makanan yang paling sering diunggah ke akun instagram seseorang saat ini adalah makanan yang khas dan unik, yang lokal, terkait dengan situs geografis tertentu, seperti asal makanan dan bahannya atau letak restorannya. Mungkin juga dengan label organik, pangan sehat, atau raw food. Jenis makanan fast food atau sering juga diasosiasikan dengan junk food jarang menjadi pilihan untuk di unggah oleh para pemilik akun instagram.

Apakah hal ini karena pengalaman makan fast food tidak lagi menjadi pengalaman makan yang istimewa? Atau makan fast food dapat merusak citra seseorang? Atau memang bentuk dari makanan fast food yang tidak indah dan menarik serta tampilannya yang membosankan yang membuat orang enggan mengunggahnya?

Selain berbicara tentang makanannya sendiri, kami juga tertarik dengan visualisasi dari instagram. Ada beberapa gaya visual yang kerap menjadi rujukan dari banyak pemilik akun, yang seolah menjadi kesepakatan bahwa gaya visual seperti itu yang indah dan menjadi kecenderungan tren dalam kurun waktu tertentu.

Saat berbicara gaya visual, tentu saja ini mencangkup tentang filter yang digunakan, angle fotografi, penataan obyek serta pilihan judul dan tagar.

Lewat workshop plating dan foodstagram ini, kami juga ingin mengeksplorasi dan membicarakan hal ini lebih lanjut lagi.

Sore itu kami juga melakukan praktik foto makanan bersama, yang hasilnya akan diunggah di akun instagram masing-maisng peserta. Selain itu, untuk menambah semangat para peserta workshop, Dadad mengadakan sedikit tantangan bagi para peserta untuk mengunggah hasil foto terbaik mereka, untuk kemudian dipilih dan mendapatkan voucher dari HungerRanger. Tentu saja hal ini semakin menambah semangat peserta workshop untuk berusaha sebaik mungkin mengambil foto terbaik dan tak lupa mengunggah dengan filter-filter tertentu yang sebelumnya sudah dijelaskan oleh HungerRanger.

Melihat tren belakangan ini, mengunggah foto makanan di akun Instagram menjadi perilaku yang dilakukan banyak pemilik akun sebagai salah satu ajang unjuk eksistensi mereka di dunia maya. Dengan gaya foto tertentu, filter foto yang kadang menggunakan aplikasi berbayar, lalu diberi caption dan tak lupa tagar yang menjelaskan tentang kekhasan makanan ini, yang juga disinyalir menjadi keyword yang akan di cari pengguna instagram lainnya, supaya mudah ditemukan.

Lebih menariknya lagi, para foodgrammer kelas “serius” ini terkadang juga menggunakan kamera DSLR dengan lensa tertentu, serta peralatan berupa gambar background yang bervariasi, serta tambahan lampu untuk memotret makanan-makanan ini. Kemudian baru mereka mengunggahnya lewat perangkat telpon seluler setelah di sunting dan diberi filter tambahan.

Melihat kecenderungan tersebut, kami ingin mengetahui sejauh mana fast food menarik para foodgrammer ini untuk dijadikan bahan unggahan mereka. Melihat tidak banyak, bahkan sangat jarang melihat seorang foodgrammer maupun non foodgramer mengunggah makanan cepat saji, sebut saja ayam goreng tepung yang pasti sudah sangat familiar.

Kata kunci “familiar” ternyata menjadi salah satu alasan Dadad untuk tidak mengunggah jenis makanan fast food sebagai makanan indah yang diunggah di Instagram.

Masyarakat sekarang sudah amat familiar dengan panganan ayam goreng, entah ayam goreng tepung yang dimakan bersanding saus, maupun ayam goreng tepung yang dimakan bersanding sambal uleg. Mungkin karena ayam goreng sudah terlalu populer, tidak ada perkembangan rasa, dan tidak ada perkembangan bentuklah yang menyebabkan keengganan untuk mengunggah ke akun Instagram. Selain karena bentuk dan rasa yang tidak “instgram-able” nilai fast food kini bukan lagi sebagai suatu makanan mewah dan prestige di kalangan anak muda khususnya, melihat segmen followers Dadad adalah anak muda. Fast food dianggap makanan yang tidak sehat, dan tidak memiliki keistimewaan. Pengalaman makan fast food adalah pengalaman biasa yang tidak memerlukan perjuangan pergi ke daerah-daerah eksotis, atau mengantri direstoran terbaru yang sedang popular untuk berebut tempat. Apalagi jika fast foodnya berasal dari fast food lokal, meskipun hasil dari workshop kemarin Dadad mampu menciptakan foto ayam goreng berharga delapan ribuan menjadi ayam goreng berkelas dan menggiurkan menurut saya.

Lalu kemudian Dadad sempat menceritakan sebelumnya ia pernah mengupload foto makanan dari gerai fast food McDonald’s, kemudian diberi judul yang intinya : Hari ini makan fast food yang enak, karena esok akan mulai “puasa sehat”.

Melihat hal ini, fast food juga kerap dijadikan bahan bercandaan atau sindiran tentang makanan yang tidak sehat tapi kita tidak bisa menolaknya sebaagai makanan yang enak. Ada nada ironi disini, dimana yang enak ternyata tidak sehat dan mungkin sebaliknya. Selain itu juga tercetus ide dari Dadad dan teman-teman foodgramer yang lain untuk menciptakan tren makan kentang goreng McDonald’s dicocol Mcflurry, hanya untuk sekedar tes pasar, sejauh mana influence mereka terhadap followers akan berpengaruh.

Pada akhirnya, kecenderungan muda-mudi masa kini untuk tidak menggunggah foto fastfood dalam akun mereka dapat saya uraikan menjadi beberapa poin:

  • Label junk food yang sudah terlanjur melekat pada fast food, mungkin sebagian besar orang merasa malu dinilai sebagai pengkonsumsi makanan tidak sehat.
  • Tidak ada “rasa” yang baru baik dari segi bentuk maupun rasa yang ditawarkan.
  • Pengalaman makan fast food bukan lagi sesuatu yang istimewa yang pantas dipamerkan dalam akun instagram.

Namun, lagi-lagi semuanya saya kembalikan kepada opini pribadi masing-masing. Untuk apa kamu menggunggah foto makanan di media sosial?

(Tiara Afriani)