Pertemuan enam (25/5/2015)

Pertemuan enam (25/5/2015)

Penulis: Bagoes Anggoro

“Eating out” atau terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia adalah “makan di luar” mungkin sering kita dengar sehari-hari. Nah, apa itu sebetulnya yang dimaksud dengan “eating out” atau “makan di luar”? Sore ini, Bakudapan mencoba mendiskusikan masalah itu berdasarkan pembacaan sebagian teks dari buku “Eating Out- Social Differentiation, Consumption and Pleasure” yang ditulis oleh Alan Warde dan Lydia Martens.

Sama halnya dengan kebutuhan dasar manusia yang lain, makan juga telah berkembang ke dalam banyak rupa, metode dan fungsi. Kita akan lazim menemui makanan di rumah, restoran mewah, fast food hingga warung angkringan. Salah satu yang menarik adalah fenomena “eating out” atau “makan di luar” yang kita sering melakukannya namun barangkali kita tidak menyadarinya dan bahkan tidak mau tahu makna di belakangnya.

Makan di luar tampak memberikan nuansa tersendiri bagi proses makan itu sendiri. Makan di luar dalam judul teks dikatakan berkaitan dengan kelas sosial, konsumsi dan hiburan. Makan di luar seakan menjadi satu bagian tersendiri yang dinantikan kehadirannya dalam proses keseharian dan menjadi menarik untuk dibahas.

Di awal diskusi, kami mencoba menjabarkan definisi makan di luar secara umum. Menurut teks yang ada, makan di luar secara umum dideskripsikan sebagai “acara makan yang dilakukan diluar rutinitas yang ada, dengan menu yang berbeda dari menu keseharian, serta mengalami momen khusus di dalamnya.” Berdasarkan penjabaran ini, kami mencoba menyesuaikan konsep makan di luar yang terjadi di Indonesia. Secara personal, kami pun memiliki persepsi masing-masing dalam menanggapi perihal makan di luar. Diskusi pun berlangsung seru dan menarik akibat adanya perbedaan pandangan terhadap konsep makan di luar yang dianut masing-masing anggota Bakudapan. Setelah obrolan yang cukup panjang, kami mencatat ada beberapa poin yang bisa menjadi indikator penting untuk sebuah “makan di luar”

  1. Konsep di luar rutinitas.

Makan secara personal telah menjadi rutinitas sehari-hari dan terlewat begitu saja. Dengan makan di luar atau adanya ajakan makan ke sebuah tempat atau acara tertentu dari seseorang tentunya akan ada perasaan dan proses makan yang berbeda dari apa yang menjadi rutinitas. Rutinitas disini juga bisa diterjemahkan sebagai hal-hal yang kita biasa lakukan sendiri, sedangkan dalam makan di luar akan muncul konsep pelayanan dari orang lain, sehingga akan memunculkan perasaan berbeda dari makan yang menjadi rutinitas sehari-hari.

  1. Momen khusus

Makan di luar kadangkala juga memerlukan satu waktu tertentu atau momen spesial untuk melakukannya. Kencan, merayakan ulang tahun, merayakan kelulusan, hadiah orang tua untuk anak atas nilai ulangan yang bagus, hingga rapat perusahaan bisa menjadi momen yang tepat untuk merencanakan dan mengadakan acara makan di luar. Sebuah rutinitas (baca: makan sendiri) barangkali akan kurang untuk merayakan sebuah acara khusus dan secara psikologis, manusia memang makhluk pesta dan cenderung memiliki keinginan untuk selalu merayakan sesuatu.

  1. Tempat

Makan di luar juga selalu diasosiasikan dengan mengambil satu tempat tertentu. Tempat yang dimaksud disini bisa dalam bermacam-macam bentuk. Mulai dari restoran hingga ke rumah seseorang. Sebuah rumah disini juga bisa menjadi satu tempat makan di luar bila memang ada acara yang sedang berlangsung di dalamnya.

  1. Menu

Sebuah menu yang disajikan secara khusus ataupun jauh dari jangkauan rutinitas juga menjadi sebuah faktor penting dalam konsep makan di luar. Petualangan rasa yang diciptakan dari sebuah menu makanan akan membuat sesorang atau sekelompok orang bisa merasakan satu kebudayaan tertentu. Membuat orang secara psikologis memiliki kebanggan tersendiri dengan mencicipi satu makanan tertentu.

  1. Komunal dan bersama-sama

Terakhir namun bukan yang paling akhir, secara esensi makan di luar memang sebuah konsep yang dilakukan lebih dari satu orang. Pesta di rumah kawan, makan malam dengan keluarga, merayakan kelulusan teman merupakan beberapa contoh makan di luar yang secara tidak langsung di dalamnya selain terjadi proses makan, namun juga akan muncul satu bentuk interaksi, dan ini terjadi melalui makanan.

Sebuah pertanyaan juga muncul di tengah-tengah diskusi kami, apakah konsep makan di luar ini memang sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sejak dulu, ataukah hanya bagian peninggalan kolonialisme dan pengaruh media saja? Barangkali akan sulit menjawab pertanyaan ini dan membutuhkan suatu riset lebih panjang lagi untuk menuruti jawabnya. Mau tidak mau, saat ini kita secara sadar maupun tidak telah sering melakukan praktik makan di luar dalam berbagai banyak rupa. Pada akhirnya, kami sepakat bahwa memang makan di luar bisa menjelma dalam berbagai wujud berdasarkan poin-poin yang telah disebutkan sebelumnya. Makan di luar juga bisa menjadi berbeda makna sesuai dengan individu yang bersinggungan langsung di dalamnya.

Berbagai poin dalam praktik makan di luar yang telah disebut yang pada akhirnya mendukung dan mensahihkan konsep dan praktik makan di luar. Konsep di luar rutinitas, momen khusus, tempat khusus, menu, dan dilakukan secara bersama-sama lah yang mengukuhkan konsep makan di luar. Makan di luar juga akan memunculkan interaksi yang berkembang menjadi ruang, ruang yang berhasil memunculkan informasi dan pengetahuan, pengetahuan yang menjadi sebuah nilai dan diyakini bersama. Inilah yang pada akhirnya memunculkan satu signifikansi sekaligus menunjukkan eksistensi akan praktik makan di luar.

Makan dan makan di luar sebagaimana menjadi bagian dari manusia dan kebudayaannya memang akan senantiasa terus berkembang. Kami sebagai kelompok yang mempelajari tentang makanan barangkali hanyalah menjadi sebuah bagian kecil dari sebuah praktik besar makan dan menu makanan. Apa yang ada disini bisa saja memunculkan pertanyaan lebih lanjut akibat kecenderungan subyektivitas kami, ataupun bagian-bagian lain yang belum tersingkap dengan jelas. Atau barangkali saja ini berlebihan? Hal ini selanjutnya yang mungkin bisa kita saksikan dalam perkembangannya, dan selalu memberikan peluang-peluang untuk suatu praktik produksi-reproduksi pengetahuan bersama baru tentang praktik makan yang kita lakukan sehari-hari sebagai bagian dari kebudayaan manusia.