Pekan Menonton Bakudapan : the Gleaners and I

Pekan Menonton Bakudapan : the Gleaners and I

Fiki Daulay

The Gleaners and I: Mempertemukan yang tercerai berai.

Di sekitar tahun 2000, Agnes Varda melakukan perjalanan untuk menjumpai bentuk praktik gleaning yang dilakukan beberapa orang atau kelompok di beberapa wilayah di Perancis. Gleaning secara harfiah berarti mengumpulkan sesuatu sedikit demi sedikit atau dalam konteks tertentu mengumpulkan sisa-sisa hasil panen. Tentu, praktik ini bukanlah hal yang janggal jika kita mendekatkan praktik serupa seperti budaya ngasak atau ngangsak di Jawa.[1] Sebagai perjalanan yang terus melaju, praktik mengumpulkan sisa hasil produksi ini terjadi dalam alur yang memutar, dari pedesaan hingga ke wilayah urban.

Praktik mengumpulkan sisa hasil produksi tidak semata-mata dihidupkan melalui rekaman perjalanan personal. Wujud praktik ini diandaikan oleh kemampuan kamera untuk menangkap perpindahan dari satu citra ke citra lainnya. Pengalaman mengumpulkan barang-barang yang ditinggal ataupun makanan sisa produksi saling dipertemukan, disandingkan, dan disusun melalui gerak kamera tersebut. Tidak cukup menyusun citra tersebut sebagai sebuah kebudayaan yang langgeng, Varda lalu memantulkan gerak ini dalam nilai kesejarahannya. Sulit tampaknya menghindari capaian ini ketika citra lukisan Les Glaneurs terus merongrong gerak tersebut.

Jika montase adalah eksperimentasi kunci, kemampuan kamera kemudian memiliki makna berlapis bagi praktik gleaning: ia memberi wujud bagi praktik menjelajahi barang-barang temuan di dalamnya sekaligus mewakili performance merekam sebagai upaya mengumpulkan citra-citra sisaan dari konsumsi sehari-hari.

Seolah tarik menarik, pendekatan esayistik kemudian menghadirkan tegangan bagi gerak itu sendiri. Bentuk esai dimaknai Varda sebagai sumber kesadaran jarak terhadap praktik gleaning. Fungsi rekayasa video digadang sebagai sumber penglihatan, sumber konsumsi yang teratur, tertib dan ajeg. Ia diandaikan dengan kemampuan tubuh yang di satu sisi bisa memegang kamera dan di sisi lain, seperti tangan atau suara varda yang berada di depan kamera. Melalui inilah pertentangan antara tubuh yang sangat pribadi dengan tubuh-tubuh yang berwujud publik dan sekaligus dihasilkan olehnya.

Tentu pertemuan antara tubuh yang mengkonsumsi dengan citra gleaning yang publik tersebut adalah tegangan yang terbuka dan aktif. Namun, pertanyaannya adalah imajinasi apa yang bisa dicapai dengan bertemunya penglihatan pribadi dengan usaha mengumpulkan sisa hasil produksi? Ia tidak hanya gesekan antara konsumsi dengan perolehan hasil produksi dalam bentuk yang liar, tetapi juga upaya berulang melalui pertemuan-pertemuan dalam semangat kolektifitas.

[1] Ngasak atau ngangsak secara umum berarti mengumpulkan sisa hasil panen milik orang lain. Dalam beberapa penjelasan, tradisi ini tidak hanya berlaku pada panen padi tetapi juga beberapa produksi panen lainnya seperti tembakau dan lain-lain.

 

Catatan:

Pekan Menonton Bakudapan adalah acara yang diinisiasi oleh Bakudapan sebagai salah satu cara berbagi referensi dengan yang lain melalui film. Diadakan setiap 2 minggu sekali dengan memilih film-film yang berkaitan dengan perihal makan/makanan. Mulai awal tahun 2017 ini, Pekan Menonton Bakudapan menggundang satu rekan untuk memilih film-film yang akan diputar selama 3 kali kedepan.