Pekan Membaca Bakudapan : Ethnography on Food Activism

Pekan Membaca Bakudapan : Ethnography on Food Activism

Selama menjalankan proyek Independent Food, salah satu bahasan utama yang kerap kami singgung adalah permasalahan mengenai aktivisme pangan beserta bentuk-bentuk gerakannya. Kami percaya bahwa dibalik bentuk-bentuk komodifikasi atas pangan, seperti label organik, lokal maupun fair-trade, ada bentuk-bentuk gerakan lain yang fokus pada sistem pangan yang tidak berkeadilan serta membela kelompok paling retan dalam sistem pangan, seperti buruh tani hingga kaum perempuan, tanpa embel-embel sebagai nilai tambah suatu produk.

Upaya mencari tahu lewat berbagai media termasuk internet dan kemudian diteruskan lewat kunjungan dan pertemuan langsung dengan pelakunya tidak serta merta membuat kami semakin jelas dalam memetakan dan memahami perihal aktivisme pangan. Sembari terus memetakan, kami kemudian menemukan buku “Ethnography on Food Activism: Agency, Democracy and Economy” yang ditulis oleh beberapa etnografer yang memiliki fokus pada gerakan pangan dan disunting oleh Carole Caunihan dan Valeria Siniscalchi. Kami kemudian sepakat untuk fokus membaca satu buku ini secara berkala dan akan rutin dilakukan 2 minggu sekali. Dalam satu kali pertemuan kami akan membahas satu bab yang bisa dipilih secara acak oleh anggota Bakudapan yang menjadi pemandu dan pemantik diskusi.

Buku ini terbagi dalam 3 bagian dalam membicarakan skala dan relasi gerakan-gerakan yang dibahas, yaitu Local Engagements, National Actions serta Transnational Networks. Pada pertemuan pertama, kami membahas bab 1 yang merupakan pengantar dan landasan yang melatar belakangi pembuatan buku ini. Bab ini ditulis oleh kedua editornya sendiri yaitu Carole Caunihan dan Valeria Siniscalchi.

Antara yang Aktivis dan yang Bukan

Dibuka dengan menceritakan bagaimana mereka berdua bertemu dan kemudian sepakat untuk saling mengisi kekosongan dan melengkapi sudut pandang perihal aktivisme pangan karena ternyata mereka berada di bidang penelitian yang sama, kemudian mereka mulai memetakan tentang jenis-jenis food activism dengan spektrum yang sangat luas. Sebagai dasar, mereka mendefinisikan food activism sebagai gerakan yang menyasar pada kapitalisasi dari sistem produksi, distribusi, konsumsi dan komersialisasi pangan dimana di dalamnya bisa mencakup siapa dan apa saja, sejauh bertujuan membuat sistem pangan lebih demokratis, berkelanjutan, sehat, etis, berbudaya dan berkualitas lebih baik, seperti yang dituliskan Caunihan dan Siniscalchi (2014: 7) :

“Food activism takes aim at the capitalist system of production, distribution, consumption, and commercialization. We include in food activism people’s discourses and action to make the food system or parts of it more democratic, sustainable, healthy, ethical, culturally appropriate, and better in quality”

Buku ini berisi contoh-contoh aksi dan gerakan dari para aktor, baik yang terlibat secara sosial hingga politis, dari yang sangat eksplisit hingga militan, maupun yang dilakukan dengan spontan sampai terinstitusional, baik secara individu maupun kolektif. Selain itu, masih menurut kedua editornya, mereka juga merenggangkan intensi dari praktek aktivisme pangan ini dengan cukup luas, mulai dari yang dilakukan dengan artikulasi yang cukup jelas dan politis hingga yang dilakukan karena alasan pribadi. Dalam buku ini sempat diberikan contoh antara Sicilian antimafia food cooperatives, dimana mereka mendeklarasikan dirinya sebagai aktivis politik hingga para pekerjanya yang bekerja hanya karena ingin mendapat pekerjaan, layak disebut aktivis pangan (2014: 8).

Berdasar dari komentar-komentar yang muncul saat diskusi kami, banyak yang tidak setuju dengan luasnya spektrum aktivisme pangan menurut buku ini, terutama menyangkut intensi atau niatan dari pelakunya. Sebagai contoh, Tauhid, salah satu peserta menceritakan pengalamannya saat berada di kebun teh di Jawa Barat. Ada salah seorang petani yang menyimpan daun teh paling pucuk untuk dikonsumsi sendiri, dimana bagian daun ini merupakan bagian terbaik yang biasanya hanya dibeli murah oleh pengepul. Apa yang dilakukan petani tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap produknya merupakan hal yang patut dihargai, tetapi karena ia tidak memiliki misi dan niatan untuk meluaskan aksinya kepada petani-petani lainnya, tidak bisa disebut aktivis pangan. Jadi menurut Tauhid yang juga disetujui oleh sebagian besar peserta, peran aktivis pangan juga harus mampu mengadvokasi gagasan dan ideologinya untuk disebarkan kepada yang lain dan bukan semata-mata untuk kepentingannya sendiri.

Cakupan Ruang dan Tempat pada Aktivisme Pangan

Hal lain yang cukup ditekankan dalam buku ini adalah perihal skala dan ruang dalam beberapa gerakan, oleh sebabnya buku ini dibagi dengan cukup ketat kedalam 3 bab berdasar cakupan wilayah, baik secara geografis maupun ideologis. Dimulai dari gerakan yang sangat lokal, seperti contoh Ten Rivers Food Web di Oregon, hingga gerakan petani anggur biodynamic di Perancis. Pada skala yang lebih besar dan trans-nasional, ada bab yang membahas Anti GMO pada jagung yang terdapat di Mexico dan Columbia, walaupun mereka fokus pada isu yang sama karena budaya makan jagung mereka, tetapi permasalahan, cara dan bentuk yang dijalankan cukup berbeda. Selain itu, terdapat juga satu bahasan yang membahas La Via campesina, sebagai gerakan petani yang sifatnya global.

Menurut kami, gerakan-gerakan yang kemudian membesar dan lintas negara bukan berarti lebih baik daripada yang berskala kecil dan fokus pada isu lokal. Salah satu peserta diskusi berpendapat, dengan menggunakan contoh pada gerakan pangan Slow Food di Italia yang membesar dan kemudian di replika seperti restoran franchise tanpa melihat kembali urgensinya dan konteks lokal dimana ia dijalankan, telah menghilangkan makna dari gerakan tersebut. Ada banyak Slow Food-Slow Food lain di kota-kota yang tersebar di seluruh dunia, termasuk di Yogyakarta yang aktivitasnya lebih mirip wisata kuliner.

Agensi dan Power

Agensi cukup erat kaitannya dengan permasalahan aktivisme. Menurut Cauhan dan Siniscalch, kedua hal ini merupakan sesuatu yang menubuh, seperti yang mereka kutip dari Sherry Ortner (2014: 10):

Social actors are always involved in, and can never act outside of, the multiplicity of social relation in which they are enmeshed…. relations of power, inequality and competition”

Selain itu juga dijelaskan mengenai keterkaitan agensi dan kekuatan individu melalui kutipan Josee Johnston (2014:10) yang menggunakan konsep Foucauldian bahwa jika kekuatan itu bersifat plural, terfragmentasi dan di mana-mana, maka agensi pastilah juga plural, tersebar melalui aksi-aksi kecil dari kegiatan yang sifatnya sehari-hari dan menunjukan “kemampuannya untuk mempengaruhi hasil”. Juga ditambahkan bahwa agensi dengan sendirinya membawa semangat untuk perubahan, strategi dan cara mencapai kesuksesan, dengan demikian agensi dalam aktivisme pangan ini harus memiliki motivasi, aksi dan hasil.

Tentu saja bentuk dan tingkatan dari kekuatan dan gerakan ini berbeda satu dengan lainnya. Dalam pengantar ini, dua contoh yang menjadi perbandingan misalnya aktivis pangan di Cuba yang tidak terlalu vokal secara terbuka karena kebijakan negara, sehingga mereka bergerak underground, dibandingkan dengan aktivis pangan perempuan di Sardinia yang bisa bersuara lantang tentang permasalahan pangan mereka, tetapi hal tersebut terjadi karena tugas dan peran perempuan terhadap pangan yang kuat berlaku di Italia.

Menurut kami, menarik membicarakan hal ini karena ternyata bentuk-bentuk aktivisme pangan ini tidak bisa dilihat secara tunggal dan selalu terkait dengan hal-hal lain di belakangnya. Kepemilikan power atas satu hal tidak serta merta sama terhadap hal lainnya, seperti strategi yang dilakukan warga sipil di Cuba bersifat lebih halus karena yang mereka lawan adalah kebijakan negara yang super power. Sedang para aktivis pangan perempuan di Italia yang cukup vokal dalam gerakannya, disadari atau tidak, mereka tetap terikat pada kerja-kerja yang sering dilabeli kerja domestik dan non-produktif, serta tak berbayar, seperti memasak, menyiapakan makanan dan sebagainnya. Kekuatan lebih yang dimiliki para aktivis pangan perempuan di Sardinia terjadi karena represi kultural akan pembagian kerja yang didominasi laki-laki.

Demokrasi dan Ekonomi

Bagaimana gerakan aktivisme didefinisikan, diimajinasikan dan dipraktekkan tentu saja menggunakan aspek demokrasi sebagai kunci penting dalam menjalankannya. Termasuk jika dalam menjalankannya menggunakan prinsip ekonomi. Berikut adalah inti dari kalimat pembuka dalam sub-bab ini. Selain memberi gambaran tulisan pada bab-bab berikutnya, permasalahan demokrasi dan ekonomi tidak terlalu dibahas mendalam pada bab prolog ini. Satu kutipan dari Stephen Gudeman (2014: 12) yang menurut kami menarik kurang lebih berisi bahwa “ekonomi memiliki dua sisi, yang berhubungan dengan penguatan komunitas serta berupa pasar dan jualan di sisi lainnya, kedua wajah ini saling jalin menjalin satu sama lain dengan kompleks, serta hanya memiliki batas yang sangat tipis”.

Kami tertarik dengan kutipan tersebut karena tentu saja ekonomi merupakan basis penting dari gerakan-gerakan agar tetap berkelanjutan, tetapi disatu sisi kami juga menyadari bahwa dengan mudah tergelincir menjadi bentuk kooptasi dan komodifikasi lainnya atas isu-isu pangan, seperti yang jamak dibicarakan : mulai dari perihal pangan organik, fair-trade, pangan lokal, dsb.

Sebagai penutup dari diskusi bab ini, kesimpulan sementara yang dapat saya catatkan adalah bahwa ada banyak sekali aktivisme pangan dan semua memang penting dilakukan. Yang perlu dipelajari adalah bahwa tiap kasus atau gerakan memiliki konteks dan latar belakangnya masing-masing, termasuk visi, agensi dan ideologi mereka yang tidak homogen. Aspek ekonomi yang sering dicurigai sebagai bentuk komodifikasi yang memungkinkan mereproduksi bagaimana cara kapitalis pangan bekerja, memang tidak mungkin dihilangkan, karena ekonomi berfungsi sebagai basis penting agar kegiatan berkelanjutan. Menurut kami, yang perlu kami lakukan adalah melihat lebih dalam dan tetap kritis serta terus memeriksa kembali terhadap faktor-faktor yang bisa menimbulkan kontradiksi terhadap visi dan misi gerakan-gerakan ini, misalnya dalam perihal ekonomi, hierarki dalam tubuh aktivisme sendiri, dan seterusnya. Hal ini kami anggap sebagai cara paling relevan dalam membicarakan permasalahan aktivisme pangan.

 

Bibliografi

Counihan C. & Siniscalchi V. 2014.  “Ethnography of Food Activism : Agency, Democracy and Economy.” London: Bloomsbury.

Foto oleh Paul Morris via https://unsplash.com/@oldskool2016

Elia Nurvista, 2017.