Mencari Keorisinalitasan Ayam Goreng Tepung

Mencari Keorisinalitasan Ayam Goreng Tepung

 

Dalam workshop kedua dari serangkaian kegiatan Bakudapan dalam project Fast and Food-rious di LIMINAL, kami mengadakan workshop tentang mencari keorisinalitas-an ayam goreng tepung, bersama narasumber Gintani Swastika.

Kegiatan ini diadakan berawal dari ketertarikan saya mengenai perilaku orang-orang yang senang mengkonsumsi ayam goreng tepung dan sebagian besar dari mereka berkomentar bahwa ayam goreng tepung yang paling enak dan orisinal adalah ayam goreng produk dari waralaba KFC ( Kentucky Fried Chicken). Tentu saja istilah enak bersifat sangat relatif dan mungkin saja bukan hanya sekadar menggambarkan cita rasa yang hanya mampu diartikulasi oleh lidah. “Enak” bisa jadi berkaitan erat dengan masalah personal, seperti memori, budaya maupun ekonomi. Begitu juga dengan istilah orisinal, yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti; asli atau tulen.

Apakah berarti ayam goreng yang lain kurang asli dan tulen jika dibandingan dengan ayam goreng KFC?

Saya penasaran bagaimana kita hampir secara kolektif bisa membentuk preferensi akan “enak dan orisinal” terhadap sebuah produk makanan dari merk tertentu. Walaupun rasa bersifat sangat personal dan subyektif, tetapi rasa juga bisa sangat universal. Lalu kira-kira bagaimana cara lidah bekerja dalam mentransformasi rasa dan mengirim sinyal ke otak untuk menyatakan ini enak atau ora enak ?

Saya juga penasaran apakah komentar enak dan orisinil ini benar-benar muncul, murni karena rasanya, atau hal lain seperti ada kaitannya dengan merk tertentu yang telah mampu mensugesti otak kita.

Berangkat dari rasa penasaran ini, kami kemudian mengadakan workshop mencari keaslian ayam goreng. Narasumbernya sendiri adalah Gintani Swastika, yang merupakan teman dekat saya, sebab saya tau dia sangat senang makan ayam goreng. Tentu saja selain senang, Gintani juga memiliki kemampuan menganalisa rasa ayam goreng, dari mulai bumbunya, cara menggorengnya, tingkat kerenyahannya dan penampilannya. Selain itu, karena jam terbangnya mencoba berbagai ayam goreng sudah tinggi, Gintani mampu mengenali sepotong ayam goreng dari merk-merk perusahaan yang beroperasi di Yogyakarta ini, hanya dengan sekali gigitan. Tentu ini skill yang sangat berguna dan patut diapresiasi.

Dalam workshop ini, kami juga mengundang beberapa partisipan serta menyediakan ayam goreng tepung dari 7 merk berbeda. Mulai dari McDonald’s, KFC, Olive Chicken, Popeye Chicken, Jogja Chicken, Rocket Chicken dan ayam goreng tepung kaki lima tanpa merk. Workshop dimulai dengan Gintani membagi-bagikan secuil ayam kepada peserta dan memandu mereka untuk menganalisa rasanya, rasa yang mampu dicecap oleh lidah, sembari membayangkan bumbu apa saja yang dipakai, minyak yang digunakan untuk menggoreng, dll.

Hampir semua peserta sepakat akan beberapa hal dalam rasa, misalnya jika ada ayam goreng yang terlalu asin, digoreng terlalu kering, kurang bumbu, dsb. Singkat kata ada beberapa merk yang menjadi top 3 favorit peserta tanpa mereka tahu berasal dari merk apa, yaitu KFC, Olive Chicken dan McDonald’s.

Saat seorang partisipan dari Australia dengan lantang bilang ayam yang baru ia coba adalah ayam terenak yang pernah ia makan dan menegaskan bahwa itu ayam favoritnya, kemudian kami membuka rahasia merk dibalik ayam itu. Ternyata ayam itu berasal dari merk McDonald’s dan seketika ia merasa malu dan ingin menarik ucapannya. Mungkin karena ia memahami betul bagaimana waralaba McDonald’s bekerja, baik dalam segi kualitas makanannya maupun dalam etika perusahaan ini dibangun. Hal ini menunjukan bahwa preferensi rasa dan selera sesorang sungguh rumit, bukan hanya ditentukan oleh lidah semata, tapi juga hal-hal lain dibaliknya, sehingga ia bisa dengan percaya diri dan lantang bilang makanan ini enak. Walaupun ada istilah “lidah tidak bisa bohong” paling tidak, kita bisa sedikit membohongi diri sendiri dengan mendidik lidah kita untuk melatih dan menyukai makanan dengan latar belakang dan alasan tertentu.

Selama workshop berlangsung, kami membicarakan berbagai hal yang menjadi alasan para peserta memilih ayam mana yang paling enak dan orisinal. Untuk kategori enak, selain karena rasa, yang pada umumnya lebih gurih, di mana menurut Gintani kemungkinan besar tepungnya dicampur dengan lemak hewani yang menjadikannya lebih mahal, juga ada faktor-faktor lain yang menentukan. Seperti misalnya, faktor kebiasaan, di mana lidah sudah merasa nyaman dengan rasa yang tidak asing lagi. Contohnya saat 2 orang peserta yang juga siswi SMU berpendapat, ayam KFC memang enak, tetapi ia lebih suka ayam Olive karena sejak pertama kenal dengan jenis makanan ayam goreng tepung, ayam Olive-lah yang selalu menjadi langganannya. Hal ini mengingatkannya dengan ritual sepulang sekolah yang dilakukan bersama teman-teman se-geng-nya sejak SMP untuk makan ayam Olive bersama. Ada juga peserta yang beranggapan rasa yang paling enak adalah ayam Olive karena mirip dengan yang dimasak ibunya di rumah. Sedang saya masih berpendapat rasa yang paling enak tetap ayam goreng KFC, yang saya juga tidak bisa menjelaskannya dengan masuk akal mengapa ini enak.

Berbicara tentang kategori orisinal, lain lagi ceritanya. Menurut beberapa peserta, ada yang menganggap KFC yang paling orisinal, karena ia merupakan produk pertama ayam goreng yang masuk ke Indonesia lewat sistem waralaba. Rasanya punya standar yang terjaga dan tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Bumbunya sudah ada formulanya yang tepat, yang kita percaya diciptakan oleh seseorang yang penuh dedikasi bernama Pak Sanders. Tapi menurut beberapa peserta, ayam Olive lebih orisinal dari pada KFC, karena dengan standar harga KFC yang kemungkinan rata-rata sama dengan harganya gerainya di seluruh belahan dunia, ia tidak sesuai dengan latar belakang ekonomi secara lokal dimana gerai itu berada. Harga KFC mungkin relatif murah jika kita konsumsi di Eropa atau Amerika, tapi beda halnya dengan konteks di Asia, khususnya Asia Tenggara kecuali Singapura mungkin. Jika kita tahu harga ayam 1 kg di pasar di Indonesia berkisar 30 ribu rupiah, maka harga 1 potong ayam KFC-pun jadi tidak masuk akal karena sangat mahal. Ayam Olive merupakan pilihan yang lebih orisinal dan autentik untuk orang yang rata-rata penghasilannya sebagian besar sedikit diatas upah minimum regional, apalagi untuk mahasiswa. Selain itu gerai ayam Olive yang terlihat ala kadarnya ini, jika dibandingkan dengan gerai KFC atau MCDonald yang terlihat mentereng, dengan music stereo dari speaker yang bagus juga hembusan AC yang membuat kulit kita tidak berkeringat dan berminyak, membuat kita tidak betah berlama-lama nongkrong. Kedai ayam Olive tersebut, dengan dekorasi yang janggal, tanpa AC, dan hanya memutarkan music dari radio lokal serta furniture yang tidak nyaman, sangat tepat dengan term fast food, yang diciptakan untuk makan cepat kemudian cabut.

Melalui semua komentar yang menjadikannya temuan bagi saya, kemudian saya mempertanyakan kembali apa yang mempengaruhi orisinalitas dalam makanan? Apakah hanya sebatas peran di indera perasa saja? Atau memang pengaruh eksternal juga mempengaruhi, seperti ekonomi, sosial, penampilan visual, dan lainnya?

(Elia Nurvista)