Kutipan Wawancara Dengan Bekicot

Kutipan Wawancara Dengan Bekicot

“Mas Bekicot, bagaimana kehidupan Anda sekarang?”

“Wah, susah.”

“Lho, kenapa? Bukankah tidak ada yang mengganggu kehidupan bekicot?”

“Aduh, mas Wartawan, manusia sekarang mulai makan bekicot.”

“Makan bekicot? Apakah manusia mulai kekurangan bahan pangan?”

“Manusia belum kekurangan pangan, malah manusia sudah memakan apa saja yang mungkin dimakannya meskipun tidak kelaparan, mulai dari laron, jangkrik, beton, sampai ponge. Jantung pisang dan jamur pun dia hajar. Sekarang giliran bekicot. Yeah. Kami menjadi korban dari seni makan.”

“Seni makan?”

Yeah. Bahkan kami diekspor ke Jepang dan Perancis, kami digaglak oleh orang-orang berdasi yang mangap seperti buaya di Champs Elysees. Heran, apakah mereka tidak berpikir bekicot itu juga makhlik Tuhan, yang diselamatkan Nabi Nuh dari banjir besar hanya untuk dimakan? Jelek-jelek begini kami juga punya roh!”

“Lantas apa tindakan yang Mas Bekicot lakukan?”

“Apalah yang kami bisa lakukan? Kami cuma bekicot. Barangkali kami punya roh, tapi jelas kami tidak punya otak. Mau demonstrasi di jalanan, nanti malah dimakan, Sudahlah, kami pasrah, barangkali ini sudah takdir. Ada kelas yang harus dihajar dan ada kelas yang harus menghajar.”

“Apakah tidak mungkin kita hidup berdampingan secara damai?”

“Tidak mungkin. Soalnya nanti manusia makan apa? Hidup itu memang survival of the fittest kok! Kalau semua makhluk hidup tidak boleh dibunuh untuk kelanjutan hidup manusia, sebetulnya esensi sayur mayur juga kehidupan bukan? Sudahlah, kami rela digaglak manusia demi protein mereka. Kami cuma berharap manusia itu tahu terima kasih terhadap makhluk lain yang sudah dikorbankan kehidupannya demi mereka. Jangan sudah mengorbankan berjuta-juta nyawa hewan, yang notabene makhluk Tuhan yang tidak pernah berbohong, eh masih jadi pembohong juga. Masih jual kecap juga. Menjadi makhluk tidak berguna.”

“Anda kok pinter Mas Bekicot?”

“Lho, jelek-jelek begini saya pernah jadi wartawan Bekicot Today.

 

Seno Gumira Ajidarma; Jazz, Parfum dan Insiden; halaman 134-135.