Independent Food

Independent Food

Awal tahun 2016 menjadi awal yang juga baru bagi kelompok belajar kami, karena kami akan memulai membahas isu pangan berikutnya setelah proyek “Fast & Foodrious”. Dalam menentukan tema serta batas bahasan yang akan kami teliti, tidak cukup dalam waktu 1-2 minggu untuk diputuskan. Ada banyak ide, cerita, ketertarikan, dan harapan yang muncul pada pertemuan-pertemuan kami. Setelah beberapa kali bertatap muka, kami berkesimpulan, tema yang paling sering muncul dalam obrolan kami adalah tentang fenomena makanan organik dan kaitannya dengan konsumen yang membutuhkan pangan sehat. Tentu saja pembahasan ini masih terlalu umum yang kemudian kami persempit dan kami pertanyakan ulang sendiri, sebenarnya apa yang menjadi kegelisahan kami terhadap fenomena ini.

Kami memulai proyek ini dengan berbagai pertanyaan, mungkin rasa skeptis dan sinisme lebih tepatnya, terutama terhadap hal-hal yang berbau konsumsi organik. Kami punya kecurigaan bahwa ini adalah persoalan kelas menengah dan gaya hidupnya yang ingin membedakan diri dengan golongan lainnya, sehingga tetap sudi membeli wortel dengan harga 3x lipat lebih mahal dari pada wortel yang ada di pasar tradisional. Padahal wortel itu terlihat dan terasa sama. Kami menduga bahwa organik adalah komoditas baru yang diperdagangkan demi kepentingan kapitalis semata, padahal awalnya dia hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap korporasi pangan dan termarjinalkannya petani kecil, protes terhadap keadaan bumi yang kian dirusak oleh industri makanan, dan sebagainya.

Seiring dengan dimulainya riset kami, yang pada awalnya hanya seputaran berbagi referensi dan bacaan, menceritakan pemikiran, hingga akhirnya kami membuat daftar para praktisi organik, mulai dari petani, aktivis, institusi, penggagas gerakan, hingga kelompok seniman. Kami berencana untuk menemui mereka satu persatu. Sejalan dengan itu pun, kami mulai melihat fenomena ini dengan perspektif yang lebih luas, bahwa ini bukan hanya tentang makanan atau sayur organik. Ada beberapa bahasan yang juga menarik dalam persoalan ini, seperti pangan sehat, pangan lokal, kesejahteraan petani, fair-trade, pertanian yang selaras dengan alam, dan lainnya. Oleh karenanya, kami berfikir ulang untuk memayungi proyek ini dengan istilah yang lebih tepat. Beberapa kata kunci yang kerap dipakai dalam menggambarkan gerakan ini, misalnya ketahanan pangan, kedaulatan pangan, swa-daya pangan atau bahkan makanan halal lan toyyiban. Masing-masing istilah tersebut digunakan oleh individu-individu ataupun kelompok sesuai dengan pandangan ideologis tertentu mereka terhadap isu ini.

Kami ingin mengambil jarak dan melihat dengan perspektif kami sendiri, oleh sebab itu kami kemudian sepakat menggunakan istilah “Independent Food”. Selain hobi kami plesetan film dalam memberi judul proyek[1], kami merasa satu hal yang kuat dari aktivitas-aktivitas ini adalah bahwa mereka menolak bentuk industrialisasi pangan dan bersikap skeptis terhadap pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan warga dengan bijaksana. Oleh karenanya mereka bergerak secara swadaya dan membangun jaringan mereka sendiri, baik dalam bentuk-bentuk lokakarya berbagi pengetahuan maupun penyelenggaraan pasar dimana mereka saling bertukar komoditas. Menurut salah satu anggota kami, situasi ini hampir sama dengan yang terjadi dalam skena musik indie, sehingga kami sepakat menggunakannya.

Namun, dari paparan diatas yang terdengar sangat utopis, juga tidak terlepas dari pertanyaan mengenai apakah hal ini benar-benar independen? Lalu independen terhadap apa?

Masih banyak hal-hal lain yang harus kami gali tentang fenomena ini, termasuk juga metode kami dalam melakukan penelitian ini. Kami berusaha menerapkan metode penelitian yang cukup eksperimental untuk kami dengan cara mengolah lahan dan bertanam di kantor KUNCI Cultural Studies Center yang membuka diri dan halamannya untuk kami olah lahannya. Selain wawancara, kami mencoba ikut terlibat dalam berbagai kegiatan dan mengonsumsi produk-produknya. Kami merasa dengan melibatkan kerja tubuh untuk memproduksi, bisa menjadi suatu cara yang kemudian akan berpengaruh dalam merefleksikan saat membahas tema ini.

 

[1] Terinspirasi dari judul film “Independence Day”