Visualisasi Iklan Fast Food

Visualisasi Iklan Fast Food

 

DISKUSI MEJA BUNDAR

“Bagaimana Visual Mampu Mempengaruhi Kesan Dari Sebuah Merk Fast Food?”

Jumat, 19 Juni 2015

Suatu hari di sebuah tempat makan cepat saji lokal “Olive”. Tiba-tiba saya termenung menatap dua buah foto yang terpampang di dinding. Terdapat foto anak kecil perempuan dengan membawa ayam Olive dengan memakai celemek, topi koki, dan juga riasan yang cukup mencolok. Foto kedua, masih dengan anak yang sama namun beda pose dan kostum, bajunya berwarna merah sambil duduk lesehan seperti orang yang sedang piknik dan membawa satu paket ayam Olive dengan nasi dan disampingnya juga ada botol minuman Fanta berwarna merah.

Hal ini membuat saya teringat dengan beberapa visual promosi tempat makan cepat saji lain khususnya yang berada di Jogja. Beberapa tempat makan ini mempunyai media visual promosinya yang cukup beragam, baik berupa banner, foto print, dan juga dalam menu mereka sendiri. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan gaya-gaya visual dalam promosi restoran cepat saji seperti Mc’Donald, KFC, Wendy’s, dan Dunkin Donut. Kemudian timbulah pertanyaan, apakah visual promosi dari restoran cepat saji lokal dapat mempengaruhi konsumen ataupun kesan dari produk itu sendiri?

Dengan latar belakang inilah akhirnya tercetus untuk membuat diskusi kecil dan mengundang Sekar Bestari dan Kennardi Julianto, mereka berdua merupakan mahasiswa komunikasi strategis yang telah berpengalaman bekerja sebagai media planer di sebuah korporasi nasional. Pada diskusi ini, kami mengumpulkan dan kemudian membandingkan gambar-gambar dari beberapa restoran cepat saji lokal dengan non lokal. Setelah dibahas lebih jauh dan lebih luas, terdapat beberapa pendekatan pada visual sebuah iklan yang akan kita bahas.

Warna

Membandingkan unsur warna pada visual promosi dari restoran cepat saji lokal dan non lokal, warna adalah salah satu elemen yang menonjol di dalamnya dan merupakan salah satu faktor daya tarik kuat sebuah rancangan iklan. Visual promosi ini didominasi oleh warna merah (Mc’ Donald, Olive Chicken, Quick Chicken, Mister Burger). Warna merah sendiri dipercaya sebagai salah satu unsur yang dapat menarik perhatian konsumen dan juga menggugah selera makan. Tubuh kita bergantung pada mata untuk mengirim sinyal ke otak. Hal ini terjadi jauh sebelum selera makan kita punya kesempatan untuk menilai rasa makanannya. Makanan bukan hanya tentang rasa, namun juga tentang presentasi baik itu presentasi penyajiannya ataupun presentasi visual promosi makanan tersebut. Sebagai media penyampaian visual, warna dapat memberikan sugesti terhadap orang yang melihatnya.

Emotional Branding

Memproduksi sebuah visual iklan tidak cukup hanya dengan visual atau gambar dan kata-kata saja, emotional branding saat ini dapat digunakan sebagai salah satu komponen pada iklan. Unsur ini dipakai untuk melakukan pendekatan terhadap calon konsumen supaya emosi dan perasaan mereka tersentuh, tergerak, atau juga ‘mengganggu’. Perusahaan atau industri saat ini gigih bersaing demi menyentuh emosi dan gengsi calon konsumen. Caranya antara lain dengan memberi pesan-pesan dan persepsi di dalam iklan sehingga calon konsumen mampu merekam dan merasakannya kemudian mereka akan membeli produk yang di promosikan. Jadi pada dasarnya membeli produk tidak hanya sebatas membeli makanannya saja, namun juga membeli sebuah kepercayaan dan juga gengsi.

Tipografi

Font atau jenis huruf juga berperan kuat pada sebuah visual iklan promosi produk. Setiap brand produk khususnya produk-produk dari perusahaan besar mempunyai karakter font tersendiri. Mereka akan membayar jasa agen iklan atau seorang designer grafis untuk membuat jenis font yang mereka inginkan. Dari karakter font ini juga bisa dipakai untuk menjadi logo yang ‘iconic’, misalnya huruf M pada Mc’ Donalds.

Fotografi

Sebagian besar perusahaan makanan cepat saji ternama menggunakan foto produk mereka ke dalam iklan visualnya. Misalnya pada iklan visual Mc’ Donalds. Dalam diskusi round table ini, kami menyimpulkan bahwa Mc’ D mempunyai kekuatan tersendiri pada gaya fotografinya. Secara kasat mata foto-foto produk mereka sudah bagus sehingga jika dipadukan dengan design keseluruhan dapat memunculkan visual yang bagus pula. Tidak jauh beda dengan foto-foto dari brand lain, rata-rata mereka memang membayar mahal untuk sebuah foto produk makanannya. Cropping, saturasi, peletakan dan cara penyajian makanan sangat dipersiapkan. Berbeda jauh dengan foto-foto dari produk cepat saji lokal khususnya yang ada di Jogja. Mungkin karena mereka bukan perusahaan besar berkelas internasional sehingga mereka mengesampingkan unsur fotografi ini. Tampak jelas bahwa visual fotografi seperti pada iklan Olive Chicken bisa dikatakan cukup buruk. Kenapa? Seperti yang sudah dijelaskan pada awal tulisan ini bahwa pada iklan Olive terlihat botol minuman dengan merk Fanta. Padahal sangat jelas bahwa seharusnya ketika ingin mempromosikan satu merk, harus konsisten dengan merk itu sendiri dan tidak membawa merk lain ke dalam satu iklan. Dengan kata lain, Olive Chicken tidak hanya mempromosikan produknya namun juga produk lain yang juga lebih kuat. Komposisi dan styling pada visual iklan mereka juga tidak terkonsep dengan baik, tidak bisa dibaca apa pesan yang ingin mereka sampaikan.

Sedikit berbeda pada visual Popeye Chicken, mereka lebih menekankan pada gambar ayam meskipun dibantu dengan seorang model. Ciri khas background putih membuat visual terlihat lebih bersih. Ruang kosong dalam gambar ini mereka isi dengan penempatan pesan dan tagline mereka. Cukup sederhana dan mempunyai pesan. Contoh lain adalah pada visual promosi Mister Burger. Di kedai-kedai mereka sudah jelas terlihat banyaknya visual-visual yang mereka pajang. Namun beberapa model dan visual produk mereka disinyalir menggunggah atau membeli dari website yang memang menjadi tempat untuk jual beli gambar-gambar untuk kebutuhan mengolah design.

Bisa disimpulkan bahwa fotografi dapat mempengaruhi visual jadi dari sebuah iklan promosi.

Karena iklan merupakan bentuk komunikasi, maka keberhasilannya dalam mendukung program pemasaran merupakan pencerminan dari keberhasilan komunikasi. Jika ditarik pada visual iklan restoran cepat saji, iklan makanan cepat saji harus lebih cerdik dalam mengolah pesan karena sangat memungkinkan untuk merubah dan mempengaruhi persepsi calon konsumen melalui visual iklan.

 

“We eat with our eyes before we eat with our mouth.” – Anonim –

(Putri Siswanto)