Diskusi Donat Paling Sehat

Diskusi Donat Paling Sehat

 

“Mengetahui Lebih Dalam Donat Mana yang Layak, yang Sehat dan Higienis”

Tulisan ini merupakan laporan hasil diskusi yang kami BAKUDAPAN lakukan sebagai sebuah kelompok studi makanan buat dengan tema besar Fast Food. Diskusi bersama yang mengundang mahasiswa lulusan ilmu gizi dari salah satu universitas di Yogyakarta yang bernama Adin ini diadakan sebagai bentuk rangkaian dari pameran yang kami lakukan di Cemeti Art House. Bermula dari penemuan berbagai informasi di media sosial seperti blog dan berita-berita online mengenai isu kesehatan donat merek terkenal dari Amerika dan Indonesia, membuat kami penasaran untuk melakukan pengamatan sendiri. Di beberapa situs blog yang menulis tentang percobaan pengamatan donat merek Amerika yakni Dunkin Donuts dan merek Indonesia yaitu J.Co, mereka menemukan bahwa donat yang mereka simpan selama 3 bulan dalam suhu ruang tidak rusak sama sekali, bahkan tidak berjamur atau diserang semut. Tulisan tersebut menggerakkan kami untuk melakukan hal yang sama, namun bedanya kami menyimpan donat dengan empat merek berbeda. Dimulai dari Dunkin Donut sebagai merek Amerika, J.Co merek Indonesia dengan sistem frainchise, Kuki Donut yang adalah donat local dengan bentuk bakery, serta yang terakhir adalah donat kentang yang kami beli di gerobak pinggir jalan. Selama 20 hari pengamatan, kami mencatat beberapa hal yang terjadi pada empat donat tersebut, yang mana hasilnya pun cukup mencengangkan kami sebagai pengamat maupun pengunjung pameran dan peserta diskusi.

Seminggu kami melakukan pameran dengan display empat donat yang ditutup plastik transparan melibatkan respon pengunjung. Kami mengajak mereka memberikan stiker pada donat mana yang menurut mereka akan membusuk lebih cepat. Jika dilihat dari jumlah stiker selama satu minggu, donat kentang gerobak mendapat stiker lebih banyak, disusul dengan donat lokal Kuki Donut, lalu untuk J.co dan Dunkin Donuts jumlah stiker seimbang. Dua puluh hari berlalu, kami menemukan beberapa peristiwa yang cukup mencengangkan kami. Sejak hari pertama di display, kami dan pengunjung pameran dapat melihat dengan jelas begitu banyak semut-semut yang berkumpul disekitar donat dan mencoba menembus celah-celah antara tutup donat dan alasnya. Pencatatan pertama kami hari itu fokus pada aktivitas semut di sekitar donat, dan dari catatan tersebut kami menemukan bahwa untuk ketiga donat yakni Dunkin Donut, J.Co dan Kuki Donat lah yang mendapat perhatian lebih dari semut-semut. Sementara berbeda dengan donat kentang, tidak ada catatan mengenai aktivitas semut disekitar donat. Beberapa hal juga terjadi setelah pengamatan kami dalam seminggu pertama kira-kira di hari ke 5 dan 6 ada dua merek donat yang menunjukkan pertumbuhan jamur di permukaan donat yani dari merek Dunkin Donut dan J.Co. Pembuktian kami mengenai isi blog yang kami temukan mengarah ke prasangka negatif terhadap merek Amerika kemudian berubah seiring berganti hari kami melakukan pencatatan terhadap perubahan donat-donat yang kami display.

Sesuai dengan pengamatan kami hingga hari ke-duapuluh, kami baru menemukan beberapa jamur yang terlihat di sekitar permukaan donat kentang. Sementara pada donat-donat lain sudah terlihat dengan jelas seluruh permukaan terselubung rambut-rambut jamur. Berdasarkan fakta yang kami temukan, kami kemudian mengundang salah seorang teman kami lulusan D3 Ilmu Gizi dari salah satu akademi kesehatan di Yogyakarta, yang bernama Adin. Kami mengundangnya untuk berdiskusi membedah mana donat yang sebenarnya layak untuk dikonsumsi jika dilihat dari pengamatan yang dilakukan di ruang pameran selama kurang lebih 20 hari. Sekitar 15 orang berkumpul di Cemeti Art House pada Rabu 24 Juni 2015 pukul 16.00, untuk mendiskusikan bersama hasil dari pengamatan yang telah dilakukan terhadap empat donat yang sering kami konsumsi. Dalam diskusi yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah ja tersebut kami mencatat beberapa point penting dari narasumber kami, Adin. Sebelumnya kita perlu melihat lagi satu persatu dari donat yang dipamerkan.

Donat pertama yakni yang berasal dari merek franchise Amerika, Dunkin Donat. Dalam proses pembuatannya, donat ini tentu menggunakan berbagai mesin canggih yang dirancang untuk mempersingkat proses pembuatan, dan juga untuk kepentingan mengurangi biaya produksi yang dikeluarkan untuk membayar tenaga manusia. Dari informasi tersebut kita paham bahwa semakin adonan donat jauh dari kontak langsung dengan tangan manusia, dan menggunakan mesin-mesin yang diatur dalam kondisi steril sangan memungkinkan donat untuk menghasilkan donat yang menjadi lebih awet, yang mampu bertahan jika disimpan di suuhu ruang hingga 5-6 hari. Jika donat yang umum diproduksi dalam rumah tangga, mungkin hanya bisa bertahan selama dua hari di suhu ruang, donat dari Dunkin Donut sangat mungkin bertahan hingga 5 hari. Hal ini terbukti ketika kami menyimpannya di ruang pameran, Donat dari merek terkenal franchise Amerika ini berjamur di hari ke-enam.

Pada donat merek J.Co kami juga punya asumsi yang sama mengenai mengapa donat J.Co berjamur sekitar hari ke-enam bersamaan dengan Dunkin Donut. Menurut kami, proses pembuatan donat Dunkin dan J.Co yang relatif sama karena menggunakan teknologi tinggi maka hal ini jugapersajian ada yang berbeda. Ukuran donat Dunkin jauh lebih besar dan tebal ketimbang ukuran donat J.Co. Perbedaan juga terdapat dari segi harga persatuan, yakni Dunkin ada pada harga 9000 sementara J.co ada di harga 7.500 untuk satu donat gula tanpa topping. Dari segi gizi, kalori lebih besar terdapat pada donat Dunkin dari segi ukuran persajian, ketimbang ketiga donat merek lainnya. Adin juga memberikan informasi mengenai pilihan donat yang diberi gula atau dilapisi cairan gula (glaze) adalah salah satu teknik pengawetan yang digunakan produsen agar donat tetap kering sehingga memperlambat pertumbuhan jamur.

Donat-donat merek lokal juga kini marak berkembang di kota-kota besar. Meskipun kami tidak bisa melacak dengan pasti teknologi seperti apakah yang digunakan dalam proses produksinya, namun pada donat merek ketiga juga menimbulkan tanda tanya baru bagi kami, kaena donat tersebut baru berjamur setelah dua minggu. Tentu saja para konsumen donat yang anti mengkonsumsi makanan dengan merek dari Amerika, kehadiran gerai-gerai donat lokal menjadi pilihan mereka untuk tetap menikmati donat dengan harga yang murah, tanpa harus menjadi bagian dari Amerika. Antara donat merek franchise Amerika dan donat lokal memang saling menunjukkan berbagai sisi perbedaan baik dari segi rasa, harga, juga fasilitas yang ditawarkan kepada konsumen. Ketiga merek donat tersebut memang bisa dibandingkan satu dan yang lain, sementara berbeda dengan donat kentang yang akan dibahas selanjutnya.

Donat kentang tentu sangat berbeda dibandingkan dengan donat yang lain. Mulai dari rasa, yang “katanya” menggunakan kentang dan campuran terigu, harga, serta tempat penjualan yang berbeda tentu saja. Logika pertama kali dan tentu saja bagi para pengunjung yang menempelkan stiker tentu saja donat yang diolah dengan menggunakan tenaga manusia, bahan material donat yang kontak langsung dengan tangan manusia semestinya membuat donat lebih cepat basi, berjamur, dan tidak bisa dikonsumsi lagi setelah hari ketiga. Pada kenyataannya, setelah lebih dari 10 hari donat kentang yang kami pajang dengan asumsi akan basi lebih cepat malah membutuhkan waktu yang lebih panjang ketimbang donat merek lain. Menurut Adin, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan donat kentang gerobak menjadi lebih lama awet. Dimulai dari bahan pengawet kimia dengan takaran yang “asal”, dan juga pemanis buatan seperti sakarin dan siklamat yang sama sekali tidak mengandung nilai gizi, serta juga penggunaan minyak goreng dengan kualitas rendah dan pemakaian berulang juga menjadi point negatif dari donat tradisional.

Diskusi yang terjadi pada sore mengupas soal bagaimana perspektif kita terhadap donat-donat andalan kami setelah Adin memberikan beberapa informasi gizi dari masing-masing merek donat. Dimulai dari Dunkin Donat yang memiliki tempat atau kafe yang bersih, dan terkesan higienis karena berasal dari Amerika, namun cenderung mengandung begitu banyak gula yakni siklamat. Fakta yang kami ketahui sore itu adalah penggunaan siklamat mampu mengurangi biaya penggunaan gula tebu biasa. Gula siklamat atau pemanis hasil rekayasa kimia ini tiga puluh kali lebih manis dari penggunaan gula biasa. Adin mengatakan bahwa siklamat biasa digunakan untuk mereka yang menderita penyakit diabetes, sementara bagi kita yang normal dan mengkonsumsi siklamat dengan rutin sangat berpotensi untuk terkena kanker. Penggunaan bahan-bahan produksi donat dengan kualitas rendah dan mengancam kesehatan ini digunakan pedagang untuk “mengakali” biaya produksi yang akan dikeluarkan. Regulasi pemerintah yang sudah ada untuk mengatasi maraknya pedagang “nakal”, dirasa tidak begitu memberi efek jera kepada para produsen pangan tradisional kerena biasanya para pedagang ini sudah memiliki kontak langsung dengan pengada bahan pengawet dari toko-toko bahan kimia. Adin berpendapat, kita sulit mengontrol kualitas bahan karena antar pedagang dan penjual sudah “tahu-sama tahu”.

Hasil diskusi berhasil menyuguhkan beberapa kelebihan dan kekurangan dari tiap-tiap donat, namun pada akhirnya kita bertemu pada dialektika donat mana yang lebih baik. Misalnya pada donat Dunkin atau J.Co lebih baik jika tidak dikonsumsi terlalu sering. Perlu uga untuk konsumen memperhatikan minuman pendampingnya, misalnya jika donatnya sudah mengandung banyak gula, lebih baik jika tidak memilih lagi minuman milkshake atau soda dengan gula yang terlalu banyak. Pun pada donat kentang, jangan sampai karena beridealis ingin memajukan produk lokal, malah kita justru dirugikan dengan pedagang nakal. Sebagai konsumen kita yang harus lebih selektif misalnya dengan melihat minyak yang dipakai untuk menggoreng apakah masih layak pakai, atau misalnya dengan memilih jalan yang aman yakni membeli donat di produsen yang kita kenal. Atau dengan jalan paling aman terakhir, yakni dengan membuat sendiri donat yang akan kita konsumsi, sehingga nilai gizi dari kualitas bahan yang kita seleksi menjadi lebih layak untuk dikonsumsi.

(Gloria Mario)