Dialog Fast Food Lintas Negara

Dialog Fast Food Lintas Negara

 

Cuaca yang panas menyerang Yogyakarta pada bulan Juni, menandai dimulainya kegiatan Bakudapan yang cukup ambiusius, tetapi tetap menyenangkan, di Rumah Seni Cemeti, tetap dalam tema proyek pertama kami, “Fast and Foodrious”. Dalam proyek pertama ini, setiap orang memiliki ketertarikan dan pendekatan masing masing untuk melakukan peneltian. Saya sendiri tertarik untuk melihat memori apa saja yang dimiliki orang-orang mengenai makanan cepat saji, semua ini terinspirasi dari pengalaman masa kecil saya sendiri. Makanan cepat saji telah menjadi seperti “hadiah” yang akan saya dapatkan setiap akhir bulan, di mana saat ibu saya mendapatkan gajinya. Momen tersebut selalu menjadi memori yang menyenangkan bagi saya.[1]

Saat berbicara mengenai makanan cepat saji dan memori masa kecil saya, saya membayangkan apakah orang-orang di negara lain mempunyai memori yang serupa dengan saya? Mungkinkah secara tidak sadar kita membagi memori yang sama? Berawal dari pertanyaan ini, saya membuat sesi Skype bersama dengan lima partisipan, dari Indonesia (saya sendiri), Australia (Win), Jerman (Sara), Filipina (Mary), Amerika (Ave), Vietnam (Hanna), and Thailand ( Jill). Saya kemudian membayangkan ada sedikit kesamaan yang akan muncul pada pengalaman setiap orang. Diikuti dengan semangat dan kepercayaan diri yang cukup, sesi Skype pun dimulai.

Koneksi internet jarang sekali bisa diandalkan untuk dapat bekerja dengan lancar, keberadaan internet nyata, tetapi kita tidak pernah tahu kondisinya dari waktu ke waktu. Sehingga hal pertama yang dilakukan sebelum sesi Skype dimulai, kami mencoba koneksi masing-masing partisipan. Kita tidak bisa mempercayai internet sepenuhnya, begitu pula dengan koneksinya, dan melalui permasalahan ini kami kehilangan salah satu partisipan yang berasal dari Vietnam, Hanna. Akhirnya, dengan enam partisipan yang tersisa, sesi Skype pun dimulai.

Obrolan dimulai saat masing-masing dari partisipan bercerita tentang memori masa kecil mereka dengan fast food. Melalui topik pertama ini, sudah terlihat cukup jelas bahwa memori masing-masing partisipan berbeda. Bagi saya, datang ke restoran cepat saji adalah sebuah hadiah, seusatu yang saya telah nantikan selama berhari-hari, tetapi untuk Win dan Ave, hal ini lebih seperti satu-satunya pilihan untuk mereka pada saat itu. Bagi Win dan Ave, pergi restoran cepat saji merupakan pilihan mereka satu-satunya saat mereka dalam perjalanan darat jarak jauh, sebab hanya restoran cepat saji yang sudah pasti memiliki jaminan kebersihan untuk toilet, makanan, dan semua fasilitasnya. Namun, terlihat sedikit kesamaan antara memori saya dan memori Win, saat makanan cepat saji menjadi imbalan, setelah ia melakukan sesuatu yang baik sebelumnya, maksud dari baik disini adalah saat Win dan teman-temannya latihan berenang, setelah latihan mereka akan makan bersama di McDonald’s. Menurut cerita Win, teman-teman lelakinya akan memesan hamburger dengan jumlah yang sangatlah banyak sebagai imbalan setelah berjam-jam berlatih renang.

Pengalaman yang berbeda dialami oleh Ave, saat ia dlaam perjalan darat jarak jauh, ia dan keluarganya tidak akan memilih McDonald’s sebagai tempat berhenti, mereka akan memilih Wendy’s, di mana menurut mereka lebih baik. Ave juga mengatakan hal yang menarik, ini berkaitan dengan bagaimana ia tidak suka saat McDonald’s diasosiasikan dengan Amerika, sebab McDonald’s bagi Ave rasanya tidak enak, dan ada banyak pilihan lain untuk mendapatkan makanan serupa dengan rasa yang lebih enak. Komentar yang dilontarkan Ave membuat saya kemudian berpikir, di Amerika mereka mempunyai banyak pilihan lain dengan rasa yang lebih enak untuk pilihan makanan seperti hamburger, kentang goreng, ayam goreng tepung, dan lainnya, Kemudian, bagaimana dengan kita di Indonesia? Dahulu kita tidak memiliki banyak opsi diabndingkan dengan sekarang, mungkin itu yang membuat kita berpikir bahwa McDonald’s enak.

Cerita berikutnya disampaikan oleh Mary memberi perspektif baru mengenai makanan cepat saji, terutama mengenai pilihan. Bagi Mary, ini bukanlah pilihan lain, tetapi pilihan utamanya saat makan makanan cepat saji, yaitu Jolibee. Jolibee sudah menjadi restoran cepat saji terfavorit di Filipina dan mereka telah mempunyai pelanggan yang setia kepadanya. Jolibee merupakan restoran makanan cepat saji pertama di Filipana dan setelah itu barulah McDonald’s menyusul. Saat membahas mengenai Jolibee, setiap partisipan memberi komentar mereka mengenai alasan Jolibe menjadi favorit – sebagian mengatakan rasanya sesuai dengan orang Filipina, lainnya mengatakan loyalitas konsumen terhadap produk lokal, dan lainnya. Kisah Jolibee di Filipina ini membuat saya menjadi penasaran, mengapa mereka bisa begitu terkenal, lebih terkenal dari McDonald’s, terutama dengan konteks di Indonesia di mnaa McDonald’s masih menjadi pilihan utama saat memilih makanan cepat saji.

Obrolan melalui Skype berlangsung selama dua jam, tetapi jika saya dapat merangkumnya, terdapat dua hal yang menarik bagi saya, yaitu permasalahan kesehatan dan perasaan menjadi orang lain. Menyinggung mengenai perasaan menjadi orang lain, semua bermula dari pengalaman saya saat pergi ke McDonald’s dahulu.Saya merasa setiap makan di McDonald’s saya bisa merasakan mnejadi orang Amerika seketika itu juga. Bagaimanapun, hal ini tidak berlaku bagi partisipan lainnya, tidak begitu persis. Bagi Jill, menjadi Amerika atau perasaan menajdi orang lain berlaku saat ia ke restoran cepat saji dan memesannya melalui drive thru. Berbeda dengan Win, di Australia mereka terbagi dua, mereka yang ingin menjadi orang Inggris, dan mereka yang ingin menjadi Amerika. Partisipan lainnya, Mary, Sara, dan Ave, tidak merasakan demikian, perasaan menjadi orang lain saat makan di restoran cepat saji.

Selanjutnya permasalahan kesehatan pun tidak bisa dikesampingkan, kita akan selalu membahasnya saat berkaitan dengan makanan cepat saji. Kenyataan bahwa makanan cepat saji itu tidak sehat sudahlah menajdi rahasia umum, kurangnya penggunaan sayuran, makanan yang digoreng, kejelasan asal bahan-bahan yang digunakan, dan persiapan untuk penyajian yang tertutup dari konsumen. Saat sesi Skype berlangsung, kami juga membahas isu organik yang sedang populer dan bagaimana gerai makanan cepat saji bereaksi dengan topik ini.

Kedua isu terakhir tersebut membuat saya kembali mempertanyakan beberapa hal. Makanan cepat saji memang tidak enak, tetapi rasa makanan mereka juga tidak begitu buruk, walaupun ada banyak pilihan lain yang lebih enak. Namun, setelah kita menikmati satu set menu makanan cepat saji, rasa bersalah kemudian muncul. Jika rasa penasaran saya dapat dirangkum, bagaimana sebenarnya memori dan pengalaman masa kini berpengaruh menciptakan selera makan seseorang – dalam hal ini dalam konteks makanan cepat saji. Apa yang membuat kita merasa bersalah saat makanan itu terasa enak?

[1] Lebih lanjut baca tulisan pengantar untuk sesi Skype

Tulisan pengantar untuk sesi Skype: The Chronicles of McDonald’s Night

 

(Khairunnisa)