Catatan Pertama tentang Kegiatan “Please Eat Wildly”

Catatan Pertama tentang Kegiatan “Please Eat Wildly”

Seperti dalam beberapa postingan lalu, kelompok kami Bakudapan sedang dalam proses melakukan proyek tentang pangan liar, yang kami namai Please Eat Wildly. Proyek ini sudah berjalan selama kurang lebih 3 bulan, yang kami mulai dari mencari tahu dan mengumpulkan sumber tertulis yang kami mampu tentang pangan liar, mencoba mengolah kebun sendiri dan bertemu serta berjejaring dengan orang atau kelompok yang memiliki ketertarikan serupa.

Selama proses ini, yang menurut kami paling menyita tenaga dan waktu adalah kegiatan berkebun, karena kami memulai dari tidak tahu apa-apa tentang bagaimana menanam, mengolah tanah yang tadinya berupa lahan tak terpakai berisi semak dan tertumpuk sampah, hingga pembagian tugas antara anggota kelompok ini yang tidak semuanya suka berkebun. Sebagai tambahan, kami ingin mengingat dan mencatat apa-apa yang kami dapat dan rasakan selama proses ini, oleh karenanya salah satu anggota kami mengusulkan untuk membuat buku harian personal berkebun yang dibagikan satu-satu kepada anggota. Metode ini berdasar pengalamannya terlibat dalam penelitian di program Etnolab. Dalam buku ini kami bisa menumpahkan segala perasaan baik yang sifatnya indrawi maupun yang lebih mengacu pada perasaan. Selain itu juga bisa memuat ilmu yang baru didapat, menggambarkan situasi lahan atau apapun yang terlintas di pikiran kami baik dalam bentuk tulisan, foto atau gambar.

Kemudian, di sela-sela agenda utama kelompok Bakudapan, berupa pekan membaca dan menonton yang terbuka untuk umum, kami juga selalu berusaha untuk mempromosikan acara ini, supaya mendapat tanggapan dan juga bantuan dari rekan-rekan yang lebih ahli. Beberapa tanggapan yang kami terima adalah bantuan bertukar atau pemberian benih, tips menanam dan juga undangan untuk ikut terlibat dalam agenda mereka. Setelah itu banyak dialog dan percakapan seputar pangan liar ini yang tidak semuanya membuat pikiran kami menjadi jernih, tetapi bingung. Walaupun kami sadar kebingungan merupakan langkah awal dari pencerahan, dimana kemudian banyak membantu kami mengevaluasi gagasan dan ide dalam proyek ini. Misalnya yang paling membuat kami galau adalah konsep tentang “pangan liar” yang memang dari awal sudah menjadi pertanyaan tersendiri. Dalam percakapan-percakapan yang muncul, hampir semua memiliki kecurigaan, jika tidak disebut sinis, tentang : “Mengapa kalau liar harus ditanam?” Beberapa kemudian berkelakar bahwa yang kami lakukan adalah “liar” (dalam bahasa Inggris yang artinya bohong). Memang daun Sintrong, Bluntas, Pegagan yang sering kami jadikan contoh sebagai tumbuhan liar sengaja kami tanam dan bukannya tumbuh dengan sendirinya.

Selain tentang istilah “liar” itu sendiri, kami juga mendapat pertanyaan tentang salah satu bentuk presentasi proyek ini, yaitu “pop-up restaurant”. Bentuk ini kemudian kami sadari, jika tidak berhati-hati bisa menjadi komodifikasi lain dari sistem pangan yang sering kami kritik baik secara terbuka maupun dalam hati. Tentu saja dari awal kami tidak berniat menjual pangan liar ini dalam bentuk sajian pangan di restoran, tetapi disadari atau tidak, menggunakannya dibawah embel-embel restoran bisa jadi bentuk fetish akan pangan liar itu sendiri serta mengeksotisasinya. Kami kemudian membongkar ulang proyek ini termasuk tujuan awal yang ingin mengampanyekan “pangan liar” sebagai alternatif pangan.

Dalam upaya membongkar ulang ini kami bertemu dengan seseorang yang sudah lama berinisiatif dengan pangan liar ini, bernama Mas Satrio. Mas Satrio membangun “database” tumbuhan-tumbuhan yang tidak disengaja ditanam dan tumbuh begitu saja yang ia temui di Yogyakarta, khususnya seputaran tempat tinggalnya daerah Pakem. Pada satu jenis tumbuhan, ia memberi informasi akan nama tanaman, layak makan atau tidak, karakter seperti bau atau menimbulkan gatal dsb, batasan dosis serta cara pengolahan. Melalui mas Satrio kami kemudian menginvetaris apa saja tumbuhan yang bisa dimakan di halaman kami, dan tentunya yang tumbuh liar. Akhirnya kami mengubah ambisi kami yang tadinya ingin mengolah seluruh lahan untuk ditanami, menjadi sebagian saja dan membiarkan bagian lainnya tumbuh liar. Dalam area yang “liar” yang banyak ditumbuhi rumput-rumput dan sering dianggap gulma, juga ada beberapa tumbuhan pangan serta hewan-hewan yang menjadikan area ini sebagai tempat tinggalnya, sehingga tidak perlu “menyerang” tanaman yang kami tanam. Salah satu “ilmu” yang kami dapat dari hal itu adalah “tidak usah terlalu beramibisi untuk menguasai alam.” Memang kalimat ini terdengar sok asik dan bijaksana, karena kami tidak sedang membangun bisnis pangan yang berorientasi pada hasil.

Hingga pada catatan proses ini dituliskan, kami masih melakukan kegiatan menanam beberapa tumbuhan pangan, yaitu : sawi, berbagai jenis kacang-kacangan yang benihnya kami dapat dari beberapa teman termasuk Mantasa, cabai, dan jengger ayam. Malahan saat ini sawi kami sedang panen, lalu kami begitu antusias untuk memikirkan bagaimana mengolahnya dan membagikan sawi tersebut ke tetangga sekitar, sampai lupa siapa dan bagaimana yang bertugas memanen sawi. Selain itu kami sedang memikirkan kembali bentuk kegiatan “Please Eat Wildly” kedepannya dari beberapa kritik dan refleksi yang kami dapat. Kami juga sangat terbuka bagi teman yang tertarik untuk bergabung, mengkritik, berdisuksi serta membantu kami dalam menjalankan kegiatan ini.

Beberapa foto kegiatan kami bisa dilihat di Facebook Bakudapan.

Elia Nurvista