Catatan Pekan Menonton Bakudapan: ‘Kitchen Stories’

Catatan Pekan Menonton Bakudapan: ‘Kitchen Stories’

“How can we understand each other without communicating?” – Isak Bjorvik

Pada hari Minggu 14 Mei 2017, saya tidak turut ayah ke kota, namun berkumpul bersama kawan-kawan Bakudapan Food Study Group untuk melangsungkan acara Pekan Menonton Bakudapan yang kesekian kalinya. Bertempat di Ruang Mes 56, kali ini kami memutar film berjudul ‘Kitchen Stories’ (Salmer fra Kjokkenet) yang merupakan film Norwegia besutan Bent Hamer dan rilis tahun 2003. Film berlatar tahun 1950 paska perang dunia 2 ini menceritakan tentang sekelompok peneliti dari Swedia yang sedang meneliti efisiensi kerja dari para ibu rumah tangga di dapur. Alih-alih melihat para ibu rumah tangga, mereka justru malah tertarik untuk melihat bagaimana para pria lajang akan mampu memaksimalkan penggunaan dapur mereka.

Sejumlah 18 peneliti dikirim ke dapur untuk duduk di salah satu sudut dapur dan mengamati segala aktivitas yang dilakukan di dalam dapur tersebut, kemudian merekam dan mencatatnya. Aturan utama bagi peneliti tersebut adalah dilarang melakukan interaksi dalam bentuk apapun terhadap orang yang ada dalam dapur. Yang menarik, bagaimana bias dan interaksi justru muncul dalam proses penelitian yang dilakukan, hingga berujung pada rangkaian persahabatan.

Sebagian film bercerita hal-hal satir dan kadang surealis tentang kehidupan rumah tangga manusia, di sisi lain mencoba melihat hal-hal lembut tentang kesepian laki-laki, dan Bent Hamer dengan cerdas melalui film ini berhasil menarik perhatian dengan membahas ranah yang kurang populer melalui pendekatan sejarah. Pada tahun 1950an, pemerintah Swedia mensponsori sebuah proyek pengamatan massa, dimana kebiasaan dapur ibu rumah tangga Swedia diperiksa dengan teliti untuk melihat apakah rancangan dan tata letak yang lebih rasional pada area persiapan makanan ini dapat ditemukan. Selain itu untuk melihat secara umum, melalui cara pelayan dan pembantu rumah tangga, jika setiap individu memiliki ketergantungan terhadap keteraturan dapur dan sulit untuk menjalani hidup mereka secara lebih logis apabila ada kekacauan di dalamnya.

Tanpa berlebihan, Hamer mencoba mendorong latar belakang sejarah ini lebih jauh, namun tidak terlalu jauh. Hamer mencoba berimajinasi dan membayangkan bagaimana orang-orang Swedia membujuk tetangga mereka orang-orang Norwegia untuk mau berpartisipasi dalam studi tentang kehidupan dapur pria tunggal. Fakta statistik kala itu memang menyebutkan Norwegia memiliki surplus terhadap laki-laki lajang. Visual yang coba digambarkan pun juga cukup mengena. Wilayah pinggiran, musim dingin, dan secara konservatif mereka mengirim sebuah konvoi para periset yang mengemudi melewati perbatasan, masing-masing membawa karavan kecil mereka sendiri, yang akan mereka parkir di luar rumah masing-masing subyek, dan kemudian menghabiskan hari di dapur tiap subyek mereka, melakukan pengamatan, pelacakan, pencatatan, perekaman yang tidak memihak, namun tidak boleh berinteraksi.

Cerita dalam film ini berpusat pada karakter Folke Nilssen, seorang pekerja penelitian kelas menengah, yang ditugaskan untuk mengamati kehidupan dapur dari seorang pria tua yang hidup sendirian bernama Isak Bjorvik. Awalnya Folke mencoba menjalani aturan yang ada. Mencoba melakukan pengamatan dengan duduk di sebuah kursi tinggi ala wasit bulutangkis di salah satu sudut dapur milik Isak. Seiring waktu, rupanya interaksi malah justru terjadi antara Folke dan Isak. Mulai dari obrolan kecil tukar pikiran hingga berbagi makanan dan minuman. Folke pun terlibat lebih jauh dan menjadi tahu lebih tentang kehidupan dan cara berpikir Isak, dan sebaliknya Isak juga malah jadi mengamati sosok Folke, mencari tahu apa sebetulnya yang dilakukan Folke, dan bahkan hingga mengisi data-data yang seharusnya diisi oleh Folke. Pada dasarnya memang Folke menjadi sosok yang dianggap Isak hadir dengan dekat secara jarak maupun pribadi, dimana sebelumnya Isak hanya hidup seorang diri. Mereka berdua akhirnya malah menciptakan satu bentuk bromance dan pertemanan yang cukup jujur dan tulus. Bent Hamer juga tidak memaksakan alur cerita film ini dengan menjadikannya tentang komedi dari pasangan yang aneh, namun mengajak kita untuk menikmati setiap bagian yang terjadi secara intim, dan juga bersiap dengan segala elemen kejutan yang muncul dalam cerita.

Film ini menurut saya mampu menghadirkan satu sisi dan pengalaman etnografis dengan segala dinamika dan dilema yang muncul di dalamnya. Dalam sebuah penelitian, seringkali seorang peneliti terikat dengan berbagai aturan yang terasa sangat akademis dan hierarkis. Hal-hal yang dilakukan di luar batasan dari aturan yang ada, sering berujung pada anggapan bias dan dianggap tidak sesuai dengan apa yang dicari. Penciptaan kedekatan dengan subyek juga kadang dianggap mengganggu dalam memberikan sebuah obyektifitas dalam mengembangkan data yang ada. Selain itu, film ini juga menggambarkan tentang siapa subyek dan siapa obyek dalam penelitian merupakan hal-hal yang sangat cair dan posisi yang cukup kompleks. Bukan mustahil jika etnografer atau siapapun yang memiliki tendensi datang ke suatu tempat untuk meneliti manusia-manusia di sana, tidak luput juga dari “penelitian” para obyeknya. Hal ini tergambar jelas lewat adegan saat Isak memata-matai Folke melalui lubang di atas kursi kerjanya. Menariknya, dalam film ini ada percakapan yang menunjukan bahwa Folke secara tidak sadar juga merupakan bagian dari penelitian Isak.

Dalam dunia penelitian modern, banyak disiplin dan metode yang beririsan. Pengalaman sensori dalam tubuh serta perasaan berada dan mengalami suatu peristiwa kadang menjadi titik penting dalam sebuah penelitian. Data kadangkala muncul dan menjadi kuat justru dengan adanya pengalaman-pengalaman personal dan subyektif seperti yang digambarkan dalam film ini. Etnografi juga menjadi salah satu yang muncul dalam rangka menarik pengalaman yang sifatnya subyektif dari area personal menjadi suatu data yang bisa dikaji lebih secara akademis. Walaupun akhirnya dalam alur film ditunjukkan bahwa Folke sebagai peneliti dipecat akibat kedekatannya dengan Isak sebagai subyek, namun data yang dibangun melalui relasi Folke dan Isak justru dianggap sangat baik dan penting.

Film ini sengaja dipilih oleh kami, Bakudapan Food Study Group, karena kami rasa mampu merefleksikan praktik penelitian yang coba kami lakukan. Dengan mencoba mengalami, bereksperimen dengan banyak hal dan metode, kami juga ingin mengeksplorasi tentang subyektifitas yang selalu ditekankan dalam sebuah penelitian serta bagaimana pengalaman-pengalaman personal seperti yang digambarkan dalam film ini bisa dipelajari sebagai data. Interaksi dan proses dialektik yang panjang pastinya juga akan mengiringi dalam menerjemahkan temuan data tersebut untuk dianalisis lebih dalam.

 

Bagoes Anggoro, 2017.